Masuk Angin Kerokan

Bagaimana Masuk Angin Bisa (Literally) Membunuh Anda

Post ini didedikasikan lebih untuk masyarakat awam dan juga mungkin dokter dalam mengedukasi pasien mengenai masuk angin. Dari pengalaman gua yang sangat singkat sebagai dokter umum (menjelang dua tahun praktek), post ini akan menjelaskan bagaimana masuk angin bisa (literally) membunuh Anda.

Baca Juga: Dokter Juga Bisa Termakan Hoax

Disclaimer: Apapun yang dituliskan dalam artikel ini bukan substitusi sebagai konsultasi medis. Bila ada gejala yang mengganggu, silahkan konsultasikan dengan tenaga medis terdekat.

Apa itu “Masuk Angin”?

Berikut adalah penjelasan mengenai masuk angin menurut ChatGPT 3.5 pada tanggal 2 October 2023 jam 09:40 dengan prompt ‘Sejarah masuk angin bisa terkenal di Indonesia’:

“Masuk angin” adalah istilah dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada gejala ketidaknyamanan fisik yang seringkali disebabkan oleh gangguan pencernaan atau perasaan tidak enak di perut, seperti kembung, perut kembung, atau sembelit. Gejala ini seringkali disertai dengan perasaan tidak enak, lemas, atau pegal-pegal di tubuh. Meskipun “masuk angin” bukanlah istilah medis yang tepat, banyak orang di Indonesia merasa mengalaminya dan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

Sejarah “masuk angin” sebagai istilah yang umum digunakan di Indonesia mungkin sulit untuk dilacak secara pasti. Namun, kemungkinan besar istilah ini telah ada dalam budaya Indonesia sejak lama. Orang-orang Indonesia telah menggunakan istilah ini untuk merujuk pada gejala-gejala ketidaknyamanan fisik yang disebabkan oleh masalah pencernaan atau perasaan tidak enak di perut selama bertahun-tahun.

Penggunaan istilah “masuk angin” juga telah menjadi bagian dari budaya dan bahasa sehari-hari di Indonesia. Orang-orang seringkali mencari cara untuk mengatasi masalah ini, seperti minum jamu atau obat tradisional, menjalani pijatan atau refleksiologi, atau mengonsumsi makanan atau minuman tertentu yang dianggap dapat membantu mengatasi gejala “masuk angin.”

Penting untuk diingat bahwa “masuk angin” bukanlah diagnosis medis yang sah, dan jika Anda mengalami gejala yang berkelanjutan atau mengkhawatirkan, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Menurut Wikipedia, masuk angin itu disebabkan oleh “udara dingin yang berlebihan. Contohnya adalah terlalu lama di ruangan AC, bermain hujan-hujanan, cuaca yang dingin, dan lainnya. Penyebab lainnya adalah terlalu banyak tertawa, salah makan, kebanyakan kentut, atau karena terlalu lelah.” Selain itu, menurut Wikipedia pula dikatakan“Masuk angin sebenarnya merupakan kumpulan gejala yang terjadi akibat gabungan kelelahan fisik, terlambat makan, dan stres pikiran”.

Dalam artikel ini, kami tidak akan membahas terlalu mendalam mengenai masuk angin dan patofisiologi (mekanisme) dari masuk angin. Namun, yang pasti adalah masuk angin bukanlah merupakan diagnosa yang sahih di dunia kedokteran dan cuma dikenal di Indonesia. Bagi kalian yang tertarik mengetahui lebih lanjut asal-usul mengenai masuk angin menurut kosmologi Jawa, kalian dapat membaca artikel yang dipublikasikan di jurnal Humaniora ini.

Bagaimana Masuk Angin Bisa Membunuh Anda

Lah, kalau masuk angin aja ga ada di dalam diagnosa kedokteran yang sahih, kok bisa masuk angin membunuh kita?

Mengacu kepada penjelasan di atas, masuk angin itu merupakan suatu kumpulan gejala yang dapat mengacu kepada banyak hal-hal medis yang mungkin serius dan mengancam jiwa. Contoh, nyeri dada atau rasa tidak nyaman di dada dianggap sebagai masuk angin. Dua atau tiga hari merasa tidak enakan atau bertambah parah, dibawa ke klinik dan dari pasien mengatakan “Iya dok, masuk angin saya ga enak lambung saya”. Setelah dicek, ternyata ada serangan jantung (myocardial infarct) dan karena onset (awitan) penyakitnya sudah lewat dari golden time untuk diberikan trombolitik, hilanglah waktu yang amat berharga untuk memberikan terapi yang optimal.

Dan ini kita berbicara terapi yang optimal, tidak sedikit juga pasien yang meninggal.

Sebagai dokter umum jaga di IGD atau rawat inap (bangsal), sering sekali saya menemukan pasien mengeluhkan masuk angin berulang atau nyeri lambung berulang. Bahkan ada juga yang mengatakan disantet sehingga menggunakan berbagai macam pernak-pernik untuk menangkal santet tersebut.

Gua EKG sebentar, eh ketemu tuh serangan jantungnya. Troponin-I (penanda darah serangan jantung) lebih dari 100 ribu (Normalnya dibawah 20).

Gejalanya? Dia berani mengaku bahwa dia merasa sehat, tidak ada keringat dingin atau sakit dada, keluhannya hanya nyeri lambung sesekali dan percaya ini di santet. Memang pasien ini berobat ke gue di poli dan sama sekali ga kepikiran untuk dirawat.

Apakah selalu serangan jantung? Engga juga.

Baru minggu lalu gua menangani pasien sakit dada kanan dengan keluhan sama, “masuk angin”. Setelah dirontgen, ternyata ditemukan TB paru.

Jadi, masuk angin bisa membunuh Anda kalau ternyata “masuk angin” Anda itu bukanlah “masuk angin”. Melainkan sebuah penanda gejala yang lebih serius dan dapat mengancam jiwa. Tidak jarang saya menemukan keluarga pasien yang mengatakan “Kemarin dia masih sehat dok, masih bisa ngomong” yang merujuk ke cerita pasien yang “masuk angin” dan kemudian tiba-tiba tidak sadarkan diri akibat perjalanan penyakitnya.

Hal seperti ini juga lah yang membuat konotasi “pasien dibawa ke rumah sakit malah meninggal”. Padahal, perjalanan penyakitnya lah yang sudah terlalu berat atau bertepatan masuk ke kondisi berat.

Implikasi Kita Sebagai Dokter Dalam Mengedukasi “Masuk Angin”

Ada beberapa alasan mengapa dokter Anda mengatakan Anda terkena “masuk angin”.

Pertama, dokter Anda yakin bahwa ini hanya lah infeksi saluran nafas atas biasa sehingga “lebih gampang” untuk mengatakan ini masuk angin. Apakah ini benar? Tentu tidak, namun berdasarkan dari pengalaman ada beberapa kondisi yang mengakibatkan seperti ini. Paling sering pasien yang sudah membawa prekonsepsi dari awal bahwa dia terkena masuk angin, sehingga edukasi apapun yang kita berikan bahwa “masuk angin itu tidak ada” dan “ini adalah infeksi virus/bakteri” mental dengan kepercayaan si pasien bahwa dia terkena “masuk angin”.

Yang kedua dan yang terakhir (yang terpikirkan) adalah pengaruh budaya. Sangat sulit untuk melawan budaya terutama bagi orang yang sangat mempercayai budaya tersebut. Sehingga, kami para dokter pun terkadang “pasrah” untuk mengedukasi mengenai ketidak adanya masuk angin tersebut.

Nah, gua tau sampai sini ada yang befikir “Ah engga itu mah lu aja yang skill komunikasinya kurang” atau “Lu nya aja yang ga meluangkan waktu lebih untuk mengedukasi”

Well, points taken and they are valid points. But, disini gua membenarkan atau menyalahkan apa yang terjadi di lapangan. Instead, ini adalah sudut pandang yang gua observasi selama di lapangan. Karena, banyak dokter juga yang percaya dengan masuk angin, dan ga jarang juga dokter-dokter yang mengalami ketidaknyamanan di dada dianggap “masuk angin”, padahal serangan jantung.

Sekian dulu post dari kami mengenai “Bagaimana Masuk Angin Bisa Membunuh Anda”. Bila kalian suka dengan konten seperti ini jangan lupa untuk share, follow instagram kami di @koas2doctor dan dengarkan podcast kami (Koas2Doctor) di mana pun kalian mendengarkan podcast kalian!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish