<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Koas2doctor, Author at Koas2Doctor</title>
	<atom:link href="https://koas2doctor.com/id/author/koas2doctor/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://koas2doctor.com/id/author/koas2doctor/</link>
	<description>Mentor Anda Dalam Menghadapi Dunia Kedokteran</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Nov 2023 08:24:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.12</generator>

<image>
	<url>https://koas2doctor.com/wp-content/uploads/2020/05/cropped-FAVICON-BENER-32x32.png</url>
	<title>Koas2doctor, Author at Koas2Doctor</title>
	<link>https://koas2doctor.com/id/author/koas2doctor/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>4 Biaya Tersembunyi Saat Daftar PPDS</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/4-biaya-tersembunyi-saat-daftar-ppds/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/4-biaya-tersembunyi-saat-daftar-ppds/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2023 08:24:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Our Two Cents]]></category>
		<category><![CDATA[Biaya Tersembunyi Daftar PPDS]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[PPDS]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1053</guid>

					<description><![CDATA[<p>PPDS, terdapat pengeluaran-pengeluaran yang perlu diperhatikan saat mendaftar PPDS. Selain daripada biaya yang diperlukan secara nyata seperti biaya pendaftaran, terdapat biaya-biaya lainnya yang perlu disiapkan. Nah, disini kita akan membahas biaya tersembunyi atau hidden fees [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/4-biaya-tersembunyi-saat-daftar-ppds/">4 Biaya Tersembunyi Saat Daftar PPDS</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PPDS, terdapat pengeluaran-pengeluaran yang perlu diperhatikan saat mendaftar PPDS. Selain daripada biaya yang diperlukan secara nyata seperti biaya pendaftaran, terdapat biaya-biaya lainnya yang perlu disiapkan. Nah, disini kita akan membahas biaya tersembunyi atau <em>hidden fees</em> saat daftar PPDS.</p>



<p>Baca Juga: <a href="https://koas2doctor.com/id/dokter-tidak-akan-tergantikan-dengan-artificial-intelligence/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Dokter Tidak Akan Tergantikan Dengan Artificial Intelligence</a></p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Biaya Tersembunyi #1: Biaya Pendaftaran “Lainnya”</span></h2>



<p>Dalam sebuah proses pendaftaran, biasanya yang akan ditampilkan adalah biaya registrasi pertama kali. Biaya ini mencakup biaya administrasi di awal yang berhubungan dengan berkas-berkas pendaftaran.</p>



<p>Namun, dalam proses pendaftaran, akan ada tahap-tahapan berikutnya seperti psikotes, ujian tertulis di lapangan, dan juga interview. Tergantung dari center yang diikuti serta jenis ujiannya, jangan heran ketika kalian akan mengeluarkan biaya dua sampai tiga juta lebih dari biaya pendaftaran di awal.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Biaya Tersembunyi #2: Tes TOEFL dan Medical Check-Up (MCU)</span></h2>



<p>Lah dok, ini bedanya dengan psikotes diatas apa? Jadi gini, psikotes itu sangat tergantung dari universitas. Ada yang melakukan ini in-house di mana mereka mengadakan tes ini secara independen dan hanya untuk keperluan ujian itu saja. Ada juga yang mempersilahkan para pendaftar menggunakan jasa psikotes manapun selama sudah terakreditasi dan terpercaya lembaganya.</p>



<p>Kalau TOEFL dan MCU, ini agak sedikit ribet. Untuk tes TOEFL, biasanya lembaga yang diperlukan adalah lembaga Institutional Testing Programme (ITP) atau disebut juga TOEFL ITP. Nah, sebenarnya sih untuk TOEFL ITP ini terdapat beberapa universitas yang bekerja sama dengan lembaga tersebut namun kalian harus melihat center mana yang ingin kalian daftar. Universitas Indonesia (UI) hanya menerima TOEFL dari TOEFL ITP UI namun bukan dari universitas lainnya. Sehingga, kalau kalian ingin mencoba di universitas lain, kalian harus mengambil tes TOEFL kembali.</p>



<p>Hal yang sama juga dibutuhkan untuk MCU. For some reasons, setiap center akan mengarahkan MCU ke rumah sakit atau institusi tertentu walaupun enam bulan sebelumnya atau bahkan kurang kita sudah melakukan item pemeriksaan yang sama. Hal ini tentu juga akan menguras biaya dikarenakan pemeriksaan tersebut tidaklah murah.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Biaya Tersembunyi #3: <em>Loss of Income</em></span></h2>



<p>Ini ga semua tapi terdapat beberapa dokter yang demi mengejar mimpi PPDS berhenti bekerja bahkan tiga sampai enam bulan sebelum mendaftar. Kata kuncinya adalah mendaftar, bukan diterima. Dengan masa depan yang belum jelas tersebut, mereka memberanikan diri tidak mencari gaji kembali demi masa depan yang lebih cerah.</p>



<p>Namun, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi ketika sudah berhenti bekerja dan tidak diterima. Ini lah yang membuat masih banyak dokter yang enggan untuk mencoba menjadi PPDS dan mencari alternatif karir lainnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Biaya Tersembunyi #4: Ongkos Travel</span></h2>



<p>Bagi kalian yang seperti gua datang dari luar kota atau bahkan pulau, biaya ongkos travel ini akan sangat terasa. Biaya tiket pulang pergi pesawat Jambi-Jakarta itu bisa dua juta sendiri, untuk sebuah urusan yang terkadang hanya satu dua hari seperti interview dan tes. Belum lagi kita menghitung penginapan kalau perlu mencari tempat terdekat menginap dan bisa saja habis 700 ribu untuk 3 hari dua malam.</p>



<p>Biaya Gocar dan Gojek? Ga usah ditanya. Karena gua pelit untuk menghabiskan masa cuti di RS gue, jadi gua biasanya ke Jakarta Jumat malam dan untuk mencari GoCar itu sangat teramat sulit. Bagi kalian yang pernah tiba di Soekarno Hatta malam-malam pasti tahu apa maksud gue.</p>



<p>Bagaikan lautan api, semua orang menunggu taksi atau Gocar.</p>



<p>Opsinya? Gua mengambil taksi dalam yang pakai fixed rate. Apakah lebih mahal? Sedikit. Ga gila-gila amat. Dari Soetta ke BSD 400 ribu including tol. GoCar? 300 ribu belum tol.</p>



<p>Sehingga, total-total hidden cost ini bisa sangat menguras duit kalian, terutama bagi yang mengulang beberapa kali. Pertimbangkanlah kemampuan finansial kalian, terutama bagi kalian yang sudah berkeluarga.</p>



<p>Bagaimana komentar kalian? Ada pendapat lain mengenai biaya tersembunyi saat nge-daftar PPDS ini? Jangan lupa disampaikan di kolom komentar, follow kami di Instagram di <a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@Koas2Doctor</a> dan dengarkan <a href="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor" target="_blank" rel="noreferrer noopener">podcast kami</a> dengan nama Koas2Doctor dimanapun kalian mendengarkan podcast kalian. <em>Otherwise, we will see you guys soon</em>!</p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/4-biaya-tersembunyi-saat-daftar-ppds/">4 Biaya Tersembunyi Saat Daftar PPDS</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/4-biaya-tersembunyi-saat-daftar-ppds/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dokter Tidak Akan Tergantikan Dengan Artificial Intelligence</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/dokter-tidak-akan-tergantikan-dengan-artificial-intelligence/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/dokter-tidak-akan-tergantikan-dengan-artificial-intelligence/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2023 12:52:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Our Two Cents]]></category>
		<category><![CDATA[Artificial Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[dokter]]></category>
		<category><![CDATA[Dokter Digantikan AI]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Buatan]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1049</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebuah statement yang berani gue ucapkan bukan karena gua dokter sehingga gua bias dan berharap gua masih tetap kerja sebagai dokter, tapi melihat dari sejarah dan juga perkembangan masa depan, dokter tidak akan tergantikan dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/dokter-tidak-akan-tergantikan-dengan-artificial-intelligence/">Dokter Tidak Akan Tergantikan Dengan Artificial Intelligence</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah statement yang berani gue ucapkan bukan karena gua dokter sehingga gua bias dan berharap gua masih tetap kerja sebagai dokter, tapi melihat dari sejarah dan juga perkembangan masa depan, dokter tidak akan tergantikan dengan artificial intelligence (AI), <em>at least not in the near to middle future</em>.</p>



<p>Baca Juga: <a href="https://koas2doctor.com/id/tips-belajar-ala-dr-nicholas-gabriel-edisi-koas-penyakit-dalam/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Tips Belajar (Ala dr. Nicholas Gabriel) – Edisi Koas Penyakit Dalam</a></p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Apa Itu <em>Artificial Intelligence</em>?</span></h2>



<p>Menurut ChatGPT 3.5, definisi dari artificial intelligence atau kecerdasan buatan adalah:</p>



<p>“….merujuk pada kemampuan mesin atau komputer untuk melakukan tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia. Ini mencakup berbagai teknik dan pendekatan yang dirancang untuk membuat program komputer dan sistem komputer dapat &#8220;berpikir&#8221; dan melakukan tugas yang biasanya memerlukan pemahaman, penalaran, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah manusia. AI mencakup sejumlah bidang penelitian dan aplikasi yang berbeda, termasuk:</p>



<ol type="1">
<li>Pembelajaran Mesin (Machine Learning): Sebuah cabang dari AI yang fokus pada pengembangan algoritma yang memungkinkan komputer untuk &#8220;mengajar diri&#8221; dari data dan pengalaman. Ini termasuk pembelajaran mendalam (deep learning) yang telah menghasilkan kemajuan besar dalam pemahaman gambar, teks, suara, dan sebagainya.</li>



<li>Pemrosesan Bahasa Alami (Natural Language Processing atau NLP): Bidang AI yang berkaitan dengan pemahaman dan pemrosesan bahasa manusia, yang memungkinkan komputer untuk berinteraksi dengan manusia melalui bahasa alami.</li>



<li>Penglihatan Komputer (Computer Vision): Menggunakan AI untuk menganalisis dan memahami gambar dan video, termasuk pengenalan objek, pengenalan wajah, dan interpretasi konten visual lainnya.</li>



<li>Robotika: Penggunaan AI dalam pengembangan dan pengendalian robot untuk melakukan tugas fisik yang kompleks.</li>



<li>Sistem Pakar: Membangun sistem komputer yang memiliki pengetahuan dan kemampuan pemecahan masalah di bidang tertentu, seperti diagnosa medis atau konsultasi bisnis.</li>



<li>Otomatisasi Proses Bisnis: Menggunakan AI untuk otomatisasi tugas-tugas rutin dalam dunia bisnis, seperti pengolahan data, analisis, dan pengambilan keputusan.</li>



<li>Kendaraan Otonom: Menggunakan AI untuk mengendalikan kendaraan seperti mobil otonom yang mampu mengemudi tanpa intervensi manusia.</li>



<li>Gaming: Menciptakan agen AI yang dapat bermain dan bersaing dalam permainan komputer, termasuk permainan papan dan permainan video.</li>
</ol>



<p>AI telah memengaruhi banyak aspek kehidupan kita, termasuk teknologi medis, transportasi, pelayanan pelanggan, keuangan, dan banyak lagi. Terus berkembangnya AI membawa potensi besar untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan inovasi di berbagai industri, tetapi juga menimbulkan pertanyaan etika dan privasi yang perlu diperhatikan.”</p>



<p>Mengapa Artificial Intelligence ini Sempat Viral? Ironisnya, ketika gua mengutip definisi AI dari ChatGPT, ChatGPT ini lah sebab mengapa topik ini sempat menjadi viral dan perbincangan. Banyak yang takjub dengan keajaiban dari ChatGPT. Tidak sedikit yang menyebut teknologi ini revolusioner, dapat mengalahkan Google, and heck, bahkan Google pun langsung auto ketar-ketir ketika melihat seberapa canggih ChatGPT dan <a href="https://www.cnbc.com/2023/02/06/google-announces-bard-ai-in-response-to-chatgpt.html#:~:text=Google%20announced%20a%20new%20conversational,rival%20the%20increasingly%20popular%20ChatGPT" target="_blank" rel="noreferrer noopener">langsung meluncurkan Bard</a>.</p>



<p>Tak heran, semua media pun langsung memberitakan ini dan semua orang langsung berspekulasi mengenai apa saja yang dapat dilakukan oleh ChatGPT. Banyak juga yang melakukan eksperimennya sendiri dari ChatGPT <a href="//www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10173042/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">mengerjakan soal masuk beberapa universitas ternama dan lulus</a>, <a href="https://dqlab.id/simak-cara-menggunakan-chat-gpt-untuk-coding" target="_blank" rel="noreferrer noopener">memeriksa atau melakukan coding</a>, atau yang lebih meta lagi adalah <a href="https://lamarr-institute.org/blog/chatgpt-has-a-chatbot-finally-achieved-self-awareness/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">ChatGPT menjadi <em>self-aware</em> dan <em>breaking the fourth wall</em></a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Dokter Tergantikan Dengan Artificial Intelligence?</span></h2>



<p>Lantas, banyak pula yang berspekulasi pekerjaan apa saja yang hilang akibat AI atau ChatGPT ini? Banyak sekali spekulasi yang beredar di luar sana di mana ada yang berpendapat bahwa pekerjaan seperti guru, data analyst atau insinyur akan hilang dan digantikan oleh AI seperti artikel <a href="https://www.cnbcindonesia.com/tech/20230216184745-37-414484/siap-siap-10-profesi-ini-bakal-punah-diganti-teknologi-ai" target="_blank" rel="noreferrer noopener">ini</a> dan <a href="https://medium.com/chatbiz-id/jokowi-akan-ganti-pns-dengan-ai-berikut-6-mitos-tentang-ai-yang-perlu-kamu-ketahui-d1ee386d15c" target="_blank" rel="noreferrer noopener">ini</a>. Bahkan, Presiden <a href="https://www.merdeka.com/uang/jokowi-tak-mau-belajar-teknologi-baru-insinyur-dan-dokter-bakal-digantikan-robot.html" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Pak Jokowi pun juga mengatakan dokter yang tidak mempelajari tentang ilmu kecerdasan buatan ini akan tertinggal</a>.</p>



<p>Sehingga, tidak heran bahwa diskusi ini akan terus bergulir. Namun, gua punya beberapa pendapat yang mungkin dapat merubah pikiran kalian.</p>



<p>Pertama, mari kita bercermin dari pekerjaan lain yaitu akuntan. Gua ga begitu paham apa saja kerja akuntan tapi gua tau mereka bekerja dengan banyak angka dan pembukuan. <em>Now, to me, that is a job that can be replaced with AI</em>. Pencatatan angka, perhitungan, dan memastikan bukunya <em>balanced</em> itu kedengaran seperti pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan <em>big data</em>. Sekarang, apakah akuntan sudah musnah? Apakah kuliah sudah tidak menawarkan S1 akuntansi?</p>



<p>Jawabannya kalian sudah tau sendiri. Hal ini dikarenakan dengan terciptanya automatic ledger melalui AI dan big data, pekerjaan akuntan itu tidak digantikan, namun <a href="https://huskiecommons.lib.niu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=2457&amp;context=studentengagement-honorscapstones" target="_blank" rel="noreferrer noopener">natur pekerjaannya yang berubah</a>. <em>Artificial Intelligence</em> akan menggantikan pekerjaan yang <em>mundane</em> atau terlalu rutin sehingga dapat mempermudah pekerjaan akuntan, <a href="https://www.geektime.com/why-ai-will-help-accountants-not-replace-them/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">bukan untuk menggantikannya</a>.</p>



<p>Sehingga, bisa kita lihat disini dokter juga tidak akan tergantikan dengan AI, namun ada beberapa natur pekerjaan yang akan berubah. Contoh, mesin mungkin sekarang belum dapat mengoperasi pasien secara otonom, namun dokter dapat mengoperasikan mesin untuk melakukan pembedahan. Hal ini sudah mulai <a href="https://news.republika.co.id/berita/reaebh368/80-dokter-indonesia-dilatih-kendalikan-robot-bedah-jarak-jauh" target="_blank" rel="noreferrer noopener">dipilotkan di Indonesia</a>.</p>



<p>Poin kedua, <a href="https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/03/08/kecerdasan-buatan-tidak-akan-gantikan-peran-tenaga-kesehatan" target="_blank" rel="noreferrer noopener">AI selama ini sudah berkembang pesat di dunia kedokteran</a>. </p>



<p>Hal sesimpel dari bacaan otomatis mesin EKG yang menginterpretasikan irama itu pun merupakan bantuan dari AI. Apakah hasil baca EKG dari mesin menggantikan fungsi dokter umum dan dokter jantung? Tentu tidak. Hasil baca mesin EKG tetap perlu dikonfirmasi oleh kita sebagai dokter. Namun, memang sayang bahwa hal ini tidak diajarkan di perkuliahan yaitu bagaimana kita mengetahui kapan untuk mempercayai bacaan kita sendiri dan kapan kita dapat mengandalkan mesin. Namun, itu topik untuk post di lain hari. Sekali lagi, kolaborasi antara AI dan dokter akan terjadi sehingga terbentuk sinergisme, namun kemungkinan AI untuk menggantikan 100% masih terlalu jauh di depan mata.</p>



<p>Poin terakhir, manusia memiliki kualitas lain yang belum dimiliki AI seperti empati dan kecerdasan EQ (https://id.quora.com/Akankah-kecerdasan-buatan-AI-menggantikan-dokter-di-masa-depan). Tentu tidak dapat dibayangkan bagaimana pedihnya rasa keluarga ketika anaknya didiagnosa dengan kanker stadium IV atau kehilangan seorang anggota keluarga secara mendadak. Apakah kita sudah siap menerima AI dengan nada monotonnya untuk menyampaikan berita tersebut tanpa ada rasa empati?</p>



<p>Gua rasa belum. Namun, disini juga poin yang penting untuk kita (dokter) semua. Kita harus mulai meningkatkan komunikasi kita. Belajar untuk mendengar keluhan pasien dan berbicara lebih sedikit (dalam kata lain, lebih sering mendengarkan pasien).</p>



<p><em>If we don’t do this, we will be replaced by AI for sure</em>.</p>



<p>Sekian dulu post kali ini yang bertema dokter tidak akan tergantikan oleh <em>artificial intelligence</em>, kalau kalian suka topik seperti ini <em>make sure to leave a comment or share it with your friend</em>! Jangan lupa untuk follow instagram kami di <a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@koas2doctor</a> dan dengarkan podcast kami dengan handle <a href="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Koas2Doctor</a> dimanapun kalian mendengarkan podcast kalian. <em>Otherwise, we will see you guys soon</em>!</p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/dokter-tidak-akan-tergantikan-dengan-artificial-intelligence/">Dokter Tidak Akan Tergantikan Dengan Artificial Intelligence</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/dokter-tidak-akan-tergantikan-dengan-artificial-intelligence/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Episode 64 : Fotografi Sebagai Opsi Karir Dokter (Ft. dr. Ida Bagus Nugraha)</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/episode-64-fotografi-sebagai-opsi-karir-dokter-ft-dr-ida-bagus-nugraha/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/episode-64-fotografi-sebagai-opsi-karir-dokter-ft-dr-ida-bagus-nugraha/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2023 12:31:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Podcast Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi Opsi Karir Dokter]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Podcast]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1045</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hola! Kembali lagi dalam series podcast di mana kali ini kita membahas pilihan karir dari seorang dokter. Fotografi merupakan salah satu hobi atau skills yang mungkin cukup umum tapi tidak terlalu sering diadopsi sebagai sebuah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/episode-64-fotografi-sebagai-opsi-karir-dokter-ft-dr-ida-bagus-nugraha/">Episode 64 : Fotografi Sebagai Opsi Karir Dokter (Ft. dr. Ida Bagus Nugraha)</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor/embed/episodes/Episode-64--Fotografi-Sebagai-Opsi-Karir-Dokter-Ft--dr--Ida-Bagus-Nugraha-e2af9vk" height="180px" width="100%" frameborder="0" scrolling="no" style="width:100%;height:180px"></iframe></p>
<p>Hola!</p>
<p>Kembali lagi dalam series podcast di mana kali ini kita membahas pilihan karir dari seorang dokter. Fotografi merupakan salah satu hobi atau skills yang mungkin cukup umum tapi tidak terlalu sering diadopsi sebagai sebuah <em>full-time career</em>, apalagi menggantikan profesi dokter.</p>
<p>Bersama <a href="https://www.instagram.com/ib.nugraha/" target="_blank" rel="noopener noreferer">dr. Ida Bagus Nugraha</a>, kita akan membahas awal mula masuk FK, kenapa bisa kecantol di dunia fotografi, mengapa akhirnya memutuskan untuk tidak lanjut di dunia kedokteran, dan tips buat kalian yang ingin banting setir!</p>
<p>Kalau kalian suka dengan konten seperti ini, jangan lupa didownload, dishare, dan berpartisipasi dalam polling kami ya!</p>
<p>Konten utama kami terdapat di <a href="https://koas2doctor.com/id/">⁠koas2doctor.com⁠</a> dan instagram kami di <a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/">⁠@koas2doctor⁠</a>. Please do support us dengan cara mengunjungi dan memfollow social media account kami.</p>
<p>All comments are welcomed via our blogs atau melalui <a href="https://koasdoct@gmail.com/">⁠email kami⁠</a>!</p>
<p>Music used for this podcast is credited to <a href="https://pixabay.com/music/beats-awakening-instrumental-1165/">⁠Jonas Bjørnstad</a></p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/episode-64-fotografi-sebagai-opsi-karir-dokter-ft-dr-ida-bagus-nugraha/">Episode 64 : Fotografi Sebagai Opsi Karir Dokter (Ft. dr. Ida Bagus Nugraha)</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/episode-64-fotografi-sebagai-opsi-karir-dokter-ft-dr-ida-bagus-nugraha/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tips Belajar (Ala dr. Nicholas Gabriel) &#8211; Edisi Koas Penyakit Dalam</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/tips-belajar-ala-dr-nicholas-gabriel-edisi-koas-penyakit-dalam/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/tips-belajar-ala-dr-nicholas-gabriel-edisi-koas-penyakit-dalam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Oct 2023 02:50:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tips & Tricks Koas]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Koas Stase IPD]]></category>
		<category><![CDATA[Koas Stase Penyakit Dalam]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Belajar Koas]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1042</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ok guys, ini adalah seri pertama dari seri “tips belajar saat koas” yang akan gw buat (karena banyaknya tekanan dari Gilbert buat bikin artikel). Kali ini, kita akan membahas tips belajar saat koas edisi stase [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/tips-belajar-ala-dr-nicholas-gabriel-edisi-koas-penyakit-dalam/">Tips Belajar (Ala dr. Nicholas Gabriel) &#8211; Edisi Koas Penyakit Dalam</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ok guys, ini adalah seri pertama dari seri “tips belajar saat koas” yang akan gw buat (karena banyaknya tekanan dari Gilbert buat bikin artikel). Kali ini, kita akan membahas tips belajar saat koas edisi stase penyakit dalam (IPD)</p>



<p>Gw kepikiran buat artikel-artikel ini karena baru kepikiran juga bahwa saat koas itu waktu sangat terbatas. Dan yang pasti waktu untuk belajar juga sedikit, karena itu gw mau sharing aja pengalaman gw pribadi gimana bisa survive selama gw koas.</p>



<p>Baca Juga: <a href="https://koas2doctor.com/id/gimana-sih-cara-belajar-pas-koas/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Gimana Sih Cara Belajar Pas Koas?</a></p>



<p><em>For Your Information</em> (FYI) menurut gw koas itu berat, tapi sebetulnya semuanya masih sangat bisa di manage. Dalam artian saat koas gw masih punya waktu untuk gym, makan, dan waktu untuk hiburan (sedikit).</p>



<p>Dan yang paling penting nilai gw juga ga yang jelek2 amat saat koas.</p>



<p>Soo yeah menurut gw gw cukup sukses saat koas.</p>



<p>Kenapa mulai dari penyakit dalam? Karena itu adalah stase pertama gw. Apakah yang setelah ini akan urut sesuai stase yang gw alami saat koas? Ga juga sih.</p>



<p>Yah cukup buat pembukaannya, sekarang kita masuk ke isi dari artikel ini yang dimana gua akan membahas tips belajar selama koas untuk edisi stase Ilmu Penyakit Dalam (IPD).</p>



<p>Stase penyakit dalam itu bisa dibilang salah satu stase yang sebetulnya bahan belajarnya paling banyak.</p>



<p>Basically semua organ yang ada di dalam torso kita, beserta dengan semua penyakit &#8211; penyakitnya itu bisa masuk ke dalam penyakit dalam.</p>



<p>Ini akan beda &#8211; beda tergantung dari tempat koas kalian, tetapi kalau di UPH biasanya kita dibagi menjadi penyakit dalam, jantung, dan paru.</p>



<p>Nah untuk yang bagian penyakit dalam tergantung dari perseptor yang kalian ikutin, biasanya foskusnya juga akan sesuai dengan sub-spesialisasi masing &#8211; masing konsulen.</p>



<p>Misalnya kalau kalian kebetulan dapat sp.PD KGEH (Konsultan gastro entero hepatic) kalian akan lebih terpapar ke organ pencernaan dan penyakit &#8211; penyakit yang menyertainya. Kalau kalian sedang ikut KGH (Konsultan Ginjal dan Hipertensi) ya kalian akan lebih terpapar dengan perginjalan.</p>



<p>Kalau buat gw pribadi, kebetulan dapat koas di rumah sakit yang penyakit dalamnya perseptornya hanya 2 dokter dan kebetulan 2 2nya belum mengambil sub-spesialis, sehingga yang gw dapat tidak terlalu spesifik ke organ tertentu.</p>



<p>Nah trik yang bisa kalian pakai saat menjalani koas penyakit dalam seperti yang telah dijelaskan di atas adalah; jadilah orang yang spesifik juga.</p>



<p>Jadi orang spesifik maksudnya adalah <strong>kalian pelajari penyakit sesuai dengan dokter yang kalian ikuti.</strong></p>



<p>Akan lebih bagus lagi kalau kalian sudah ada operan tentang kebiasaan dokter tersebut, karena terkadang di operan tersebut sudah disebutkan kasus yang sering dijumpai dan perlu di pelajari bila mengikuti dokter tersebut.</p>



<p>Tapi kalau g ada operan yang sebagus itu, yah kalau gw pribadi biasa akan menggunakan ilmu <em>educated guess </em>untuk menentukan hal yang perlu gw baca sebelum ikut dokternya, lalu setelah beberapa hari ikut maka biasanya sudah jelas penyakit apa saja yang sering ditangani oleh dokter itu dan dari situ mana saja yang harus kalian baca-baca.</p>



<p>Dan kalau untuk penyakit dalam, yang menurut gw penting untuk tau itu adalah: standar gambaran dan gejala umum penyakitnya, pemeriksaan fisik yang khas saja, dan yang paling penting adalah kalian tau guidelines terbaru penyakit tersebut.</p>



<p><strong>CONTOH:</strong></p>



<p>Gw saat mengikut dokter sp.PD di RS tempat gw koas IPD dulu, memperhatikan bahwa penyakit yang sering ada di poli adalah<strong> DM tipe 2 dan yang ada di bangsal adalah Typhoid fever.</strong></p>



<p>Jadi gw saat itu baca pedoman DM dari PERKENI dan baca mengenai typhoid dari kapita selekta.</p>



<p>Yes kapita selekta, gw g bakal bacot bilang gw baca dari buku IPD UI atau harrisons. Karena jujur saat koas gw udah g ada semangat buat baca ulang buku2 besar seperti itu.</p>



<p><em>Those books are for pre-clinical reads</em>&nbsp; dan untuk orang2 yang memang mau menjadi sp.PD</p>



<p>Selain 2 itu gw baca &#8211; baca dari kapita selekta atau even dari search google singkat kalau memang kebetulan ketemu kasus &#8211; kasus yang menarik atau gw masih kurang jelas.</p>



<p>Untuk dokter sp.JP gw rasa akan sama di manapun kalian koas, kalian harus tau A &#8211; Z tentang <strong>Hipertensi DAN CAD (coronary artery disease) termasuk ACS (Acute coronary syndrome) </strong>&nbsp;dan tatalaksana awal UGD untuk ACS dan ACLS (advanced cardiac life support)</p>



<p>Gua sarankan untuk hipertensi dan CAD basicnya baca dari Lilly’s pathophysiology of heart disease (kalau kalian belum pernah baca saat pre klinik) dan untuk guidelines baca dan hafalkan tatalaksana ACS dan henti jantung dari guidelines ACLS (<strong>cari aja di google image pasti muncul).</strong></p>



<p><strong>PASTIKAN BISA BACA EKG MINIMAL STEMI.</strong></p>



<p>Untuk stase paru. 3 kata: ASMA, COPD, TB.</p>



<p>Untungnya ketiganya ada ringkasan lengkapnya di GINA, GOLD, dan buku TB dari PDPI.</p>



<p>Minimal kalian tahu untuk kriteria diagnosis dan treatmentnya ya guys.</p>



<p>Ga banyak kok. Kalau kalian extra (atau ditanya konsulen) boleh cari tahu sampai ke pathophysiologinya.</p>



<p>Oh dan ini gw pribadi ga dapat, tapi teman &#8211; teman angkatan gw yang stase di rumah sakit lain biasanya juga suka keluar saat ujian tentang shock. Terutama shock yang berhubungan dengan penyakit dalam (septic shock, cardiogenic shock)</p>



<p>Oke sih, menurut gw untuk stase IPD gw dulu yang krusial harus tahu itu, sisanya lebih baik disesuaikan sesuai dengan sikon kalian saat menjalani stasenya.</p>



<p>Kalau ada yang kurang jelas bisa ditanya di kolom komentar ya gaes. Sekian dulu post kali ini mengenai tips belajar edisi koas penyakit dalam. Meanwhile, silahkan follow instagram kami di <a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@koas2doctor</a> dan dengarkan podcast kami (<a href="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Koas2Doctor</a>) dimanapun kalian mendengarkan podcast.</p>



<p>Until next time</p>



<p>-N.G.H.R</p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/tips-belajar-ala-dr-nicholas-gabriel-edisi-koas-penyakit-dalam/">Tips Belajar (Ala dr. Nicholas Gabriel) &#8211; Edisi Koas Penyakit Dalam</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/tips-belajar-ala-dr-nicholas-gabriel-edisi-koas-penyakit-dalam/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak FK dan Koas : Back Up Your Data!</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/anak-fk-dan-koas-back-up-your-data/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/anak-fk-dan-koas-back-up-your-data/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Oct 2023 03:30:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Things I Wish I Knew During Medical Schools]]></category>
		<category><![CDATA[Back Up Your Data]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Podcast]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1038</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cie ileh, bahasa Inggris banget yak judulnya, tapi dalam series singkat kali ini yaitu “Things I Wish I Knew During Medical Schools: Back Up Your Data”, gua atau dr Nicholas akan sharing mengenai hal-hal yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/anak-fk-dan-koas-back-up-your-data/">Anak FK dan Koas : Back Up Your Data!</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Cie ileh, bahasa Inggris banget yak judulnya, tapi dalam series singkat kali ini yaitu “<em>Things I Wish I Knew During Medical Schools: Back Up Your Data</em>”, gua atau dr Nicholas akan sharing mengenai hal-hal yang kami pengen diberitahukan selama masih di fakultas kedokteran atau di koas sehingga kalian tidak perlu merasakan hal yang sama seperti kami. <em>Hence</em>, terbentuklah sebuah series yaitu “<em>Things I wish I Knew During Medical Schools</em>”</p>



<p>Baca Juga: <a href="https://koas2doctor.com/id/bagaimana-masuk-angin-bisa-literally-membunuh-anda/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Bagaimana Masuk Angin Bisa (Literally) Membunuh Anda</a></p>



<h2 class="wp-block-heading"><em><span style="text-decoration: underline;">The Stories</span></em></h2>



<p>Jadi, bagi kalian yang baru, gua kuliah di Universitas Pelita Harapan, Tangerang. Nah, karena gua bukan orang asli sana, gua ngekos. Dan sebagai anak kuliah lainnya, tentu terkadang kita perlu membawa laptop kemana-mana kan? Untuk mengerjakan tugas dan keperluan lainnya. Karena gua tidak punya kendaraan sendiri, gua membawa laptop di dalam tas (<em>backpac</em>k) kemana-mana. Nah, gua tau kalian akan mikir “Loh kok ga di <em>hand carry</em>” atau “Loh kok ga dibawa pake tas laptop khusus”.</p>



<p><em>Yes, I know that’s the right thing</em>.</p>



<p>Tapi ribet banget untuk ngebawa tas laptop kemana-mana (<em>at least</em> bagi gue) karena ya ngapain gua harus bawa dua tas ketika satu sudah cukup. Tapi ya resikonya adalah laptop gue tergencet dengan buku-buku atau botol minum 1L gua. Dari sini gua rasa kalian bisa tau apa yang terjadi.</p>



<p>Gua bersama laptop gua yang sekarang ini selama hampir 10 tahun (2014-2023). Ini bukan seperti menghitung hari demam karena 2014 gua pake itu laptop. Di antara 10 tahun itu, gua sudah lupa berapa kali ada masalah dengan laptop itu. Sebenarnya ga banyak untuk pemakaian 10 tahun, tapi yang gua ingat itu ada 1 kali kejadian monitornya yang rusak, 2-3 kali kejadian data gua hilang, 1 kali kejadian (sampai sekarang) engselnya rusak, 1 kali dimana sudah <em>slow performing</em> (karena RAM nya sehingga gua ganti RAM nya), dan masih banyak lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em><u>Back Up Your Data</u></em></h2>



<p>Data itu kita <em>take it for granted</em>. Kita harapkan data itu akan terus ada, tapi kalau hilang kita akan panique setengah mati.</p>



<p><em>That’s what happened to me</em>.</p>



<p>Ceritanya sebelum IMO, gua membuat catatan gastro sendiri yang gua combine dari berbagai buku dan jurnal dan gua bagi per organ gastro dan per penyakit. <em>Basically, it was my holy bible for IMO.</em></p>



<p>Baca Juga: <a href="https://koas2doctor.com/id/pengalaman-imo-rmo-ala-dr-nicholas/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Pengalaman IMO &amp; RMO ala dr. Nicholas</a></p>



<p>Terus, itu data tiba-tiba hilang. <em>Gone</em>. Ga bersisa. Ntah kenapa (gua juga lupa kenapa persisnya) tapi data itu hilang semua.</p>



<p>Gua belum back up data pada saat itu. Kebayang dong seberapa panik dan distraughtnya gua. Semua emosi bercampur aduk. Rasa tidak percaya, sedih, kesal, putus asa dan lainnya bercampur jadi satu. Permasalahannya, gua belum mentransfer itu data kemana-mana dan gua belum belajar lagi dari catatan itu. Sedangkan, deadline untuk IMO sudah semakin dekat dan gua ga mungkin membuat itu lagi dari 0.</p>



<p>Sehingga, gua bawa itu ke service center di mall dan berkeliling serta bertanya demi secercah harapan sebuah counter dapat membantu gue. Puji Tuhan ada 1 counter yang bisa membantu meng<em>recover</em> (sebagian) data untuk 500 ribu.</p>



<p>Cukup mahal bagi gue pada saat itu tapi tidak ada pilihan lain bagi gue.</p>



<p>FYI, gua sudah mencoba google, mendownload aplikasi gratis yang katanya bisa recover data dll. Tapi gua tidak berhasil dan tidak punya waktu lagi, <em>so I decided to pay up</em>.</p>



<p>Singkat cerita, itu data berhasil gua recover sebagian dan at least gua ga perlu mulai lagi dari 0. Dari situ gua bertekad untuk “menginvestasikan” duit gua untuk membeli harddisk dan rajin memback up data.</p>



<p><em><u>Again, Back Up Your God**** Data!</u></em></p>



<p>Kejadian kedua itu adalah ketika harddisk gua yang rusak. Yes, gua baru tau hard disk itu bisa rusak. Bagi kalian yang punya harddisk, kalian tahu dong bahwa itu barang juga ga bisa disimpan sembarangan.</p>



<p><em>I learnt it the hard way</em>.</p>



<p>Pertama kali gua beli hard disk, itu datang langsung dengan covernya for free. Pada saat hard disk pertama penuh, gua beli hard disk yang kedua. Karena yang pertama itu ga ada masalah (<em>even to this day</em>), gua pikir ga bakal perlu lah beli cover dan lain-lainnya. <em>I was so wrong</em>. Hard disk itu bermasalah juga.</p>



<p>Ada data penting ga? Ga terlalu sih. Isinya itu adalah rekaman webinar yang belum gua tonton selama pandemi. Sebenarnya ya kalau gua gunner mode, itu pasti penting banget karena ada banyak ilmu disana. Tapi ya ketimbang dengan pengalaman sebelumnya, ini ga terlalu parah-parah banget.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em><u>What Did I Learn?</u></em></h2>



<p>Jadi, back-up your data! Kalian tidak akan tahu kapan data kalian akan hilang dan kalian ga tau seberapa penting itu data sampai kalian kehilangan data tersebut. Sekarang, dengan kemajuan zaman, kalian bisa <em><a href="https://www.upguard.com/blog/how-to-back-up-your-data" target="_blank" rel="noreferrer noopener">back up data to the cloud</a></em> tanpa harus membawa hard disk kemana mana. <em>So that’s an option</em>.</p>



<p>Sekian dulu post singkat kali ini. Kalau kalian suka apa yang kalian baca, <em>make sure to check out our other posts</em>. Follow kami di instagram di <a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@koas2doctor</a> dan dengarkan <a href="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor" target="_blank" rel="noreferrer noopener">podcast kami di Koas2Doctor</a> dimanapun kalian mendengarkan podcast kalian. <em>Otherwise, we will see you guys soon</em>!</p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/anak-fk-dan-koas-back-up-your-data/">Anak FK dan Koas : Back Up Your Data!</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/anak-fk-dan-koas-back-up-your-data/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Masuk Angin Bisa (Literally) Membunuh Anda</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/bagaimana-masuk-angin-bisa-literally-membunuh-anda/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/bagaimana-masuk-angin-bisa-literally-membunuh-anda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Oct 2023 05:50:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Miscellaneous]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Kerokan]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Masuk Angin]]></category>
		<category><![CDATA[Masuk Angin Bisa Membunuh]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1032</guid>

					<description><![CDATA[<p>Post ini didedikasikan lebih untuk masyarakat awam dan juga mungkin dokter dalam mengedukasi pasien mengenai masuk angin. Dari pengalaman gua yang sangat singkat sebagai dokter umum (menjelang dua tahun praktek), post ini akan menjelaskan bagaimana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/bagaimana-masuk-angin-bisa-literally-membunuh-anda/">Bagaimana Masuk Angin Bisa (Literally) Membunuh Anda</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Post ini didedikasikan lebih untuk masyarakat awam dan juga mungkin dokter dalam mengedukasi pasien mengenai masuk angin. Dari pengalaman gua yang sangat singkat sebagai dokter umum (menjelang dua tahun praktek), post ini akan menjelaskan bagaimana masuk angin bisa (literally) membunuh Anda.</p>



<p>Baca Juga: <a href="https://koas2doctor.com/id/dokter-juga-bisa-termakan-hoax/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Dokter Juga Bisa Termakan Hoax</a></p>



<p><strong><em>Disclaimer</em></strong>: Apapun yang dituliskan dalam artikel ini bukan substitusi sebagai konsultasi medis. Bila ada gejala yang mengganggu, silahkan konsultasikan dengan tenaga medis terdekat.</p>



<p>Apa itu “Masuk Angin”?</p>



<p>Berikut adalah penjelasan mengenai masuk angin menurut ChatGPT 3.5 pada tanggal 2 October 2023 jam 09:40 dengan prompt ‘Sejarah masuk angin bisa terkenal di Indonesia’:</p>



<p><em>&#8220;Masuk angin&#8221; adalah istilah dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada gejala ketidaknyamanan fisik yang seringkali disebabkan oleh gangguan pencernaan atau perasaan tidak enak di perut, seperti kembung, perut kembung, atau sembelit. Gejala ini seringkali disertai dengan perasaan tidak enak, lemas, atau pegal-pegal di tubuh. Meskipun &#8220;masuk angin&#8221; bukanlah istilah medis yang tepat, banyak orang di Indonesia merasa mengalaminya dan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.</em></p>



<p><em>Sejarah &#8220;masuk angin&#8221; sebagai istilah yang umum digunakan di Indonesia mungkin sulit untuk dilacak secara pasti. Namun, kemungkinan besar istilah ini telah ada dalam budaya Indonesia sejak lama. Orang-orang Indonesia telah menggunakan istilah ini untuk merujuk pada gejala-gejala ketidaknyamanan fisik yang disebabkan oleh masalah pencernaan atau perasaan tidak enak di perut selama bertahun-tahun.</em></p>



<p><em>Penggunaan istilah &#8220;masuk angin&#8221; juga telah menjadi bagian dari budaya dan bahasa sehari-hari di Indonesia. Orang-orang seringkali mencari cara untuk mengatasi masalah ini, seperti minum jamu atau obat tradisional, menjalani pijatan atau refleksiologi, atau mengonsumsi makanan atau minuman tertentu yang dianggap dapat membantu mengatasi gejala &#8220;masuk angin.&#8221;</em></p>



<p><em>Penting untuk diingat bahwa &#8220;masuk angin&#8221; bukanlah diagnosis medis yang sah, dan jika Anda mengalami gejala yang berkelanjutan atau mengkhawatirkan, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.</em> Menurut Wikipedia, masuk angin itu disebabkan oleh “<em>udara dingin yang berlebihan. Contohnya adalah terlalu lama di ruangan AC, bermain hujan-hujanan, cuaca yang dingin, dan lainnya. Penyebab lainnya adalah terlalu banyak tertawa, salah makan, kebanyakan kentut, atau karena terlalu lelah</em>.” Selain itu, menurut <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Masuk_angin" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Wikipedia</a> pula dikatakan<em>“Masuk angin sebenarnya merupakan kumpulan gejala yang terjadi akibat gabungan kelelahan fisik, terlambat makan, dan stres pikiran”</em>.</p>



<p>Dalam artikel ini, kami tidak akan membahas terlalu mendalam mengenai masuk angin dan patofisiologi (mekanisme) dari masuk angin. Namun, yang pasti adalah masuk angin bukanlah merupakan diagnosa yang sahih di <a href="https://nationalgeographic.grid.id/read/13304262/mengapa-hanya-orang-indonesia-yang-kenal-dan-terserang-masuk-angin" target="_blank" rel="noreferrer noopener">dunia kedokteran</a> dan <a href="https://www.merdeka.com/gaya/masuk-angin-kenapa-cuma-dikenal-orang-indonesia-186-mvk.html" target="_blank" rel="noreferrer noopener">cuma dikenal di Indonesia</a>. Bagi kalian yang tertarik mengetahui lebih lanjut asal-usul mengenai masuk angin menurut kosmologi Jawa, kalian dapat membaca artikel yang dipublikasikan di <a href="https://media.neliti.com/media/publications/11931-ID-masuk-angin-dalam-konteks-kosmologi-jawa.pdf" target="_blank" rel="noreferrer noopener">jurnal Humaniora</a> ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Bagaimana Masuk Angin Bisa Membunuh Anda</span></h2>



<p>Lah, kalau masuk angin aja ga ada di dalam diagnosa kedokteran yang sahih, kok bisa masuk angin membunuh kita?</p>



<p>Mengacu kepada penjelasan di atas, masuk angin itu merupakan suatu kumpulan gejala yang dapat mengacu kepada banyak hal-hal medis yang mungkin serius dan mengancam jiwa. Contoh, nyeri dada atau rasa tidak nyaman di dada dianggap sebagai masuk angin. Dua atau tiga hari merasa tidak enakan atau bertambah parah, dibawa ke klinik dan dari pasien mengatakan “Iya dok, masuk angin saya ga enak lambung saya”. Setelah dicek, ternyata ada serangan jantung (<em>myocardial infarct</em>) dan karena <em>onset</em> (awitan) penyakitnya sudah lewat dari golden time untuk diberikan trombolitik, hilanglah waktu yang amat berharga untuk memberikan terapi yang optimal.</p>



<p>Dan ini kita berbicara terapi yang optimal, tidak sedikit juga pasien yang meninggal.</p>



<p>Sebagai dokter umum jaga di IGD atau rawat inap (bangsal), sering sekali saya menemukan pasien mengeluhkan masuk angin berulang atau nyeri lambung berulang. Bahkan ada juga yang mengatakan disantet sehingga menggunakan berbagai macam pernak-pernik untuk menangkal santet tersebut.</p>



<p>Gua EKG sebentar, eh ketemu tuh serangan jantungnya. Troponin-I (penanda darah serangan jantung) lebih dari 100 ribu (Normalnya dibawah 20).</p>



<p>Gejalanya? Dia berani mengaku bahwa dia merasa sehat, tidak ada keringat dingin atau sakit dada, keluhannya hanya nyeri lambung sesekali dan percaya ini di santet. Memang pasien ini berobat ke gue di poli dan sama sekali ga kepikiran untuk dirawat.</p>



<p>Apakah selalu serangan jantung? Engga juga.</p>



<p>Baru minggu lalu gua menangani pasien sakit dada kanan dengan keluhan sama, “masuk angin”. Setelah dirontgen, ternyata ditemukan TB paru.</p>



<p>Jadi, masuk angin bisa membunuh Anda kalau ternyata “masuk angin” Anda itu bukanlah “masuk angin”. Melainkan sebuah penanda gejala yang lebih serius dan dapat mengancam jiwa. Tidak jarang saya menemukan keluarga pasien yang mengatakan “Kemarin dia masih sehat dok, masih bisa ngomong” yang merujuk ke cerita pasien yang “masuk angin” dan kemudian tiba-tiba tidak sadarkan diri akibat perjalanan penyakitnya.</p>



<p>Hal seperti ini juga lah yang membuat konotasi “pasien dibawa ke rumah sakit malah meninggal”. Padahal, perjalanan penyakitnya lah yang sudah terlalu berat atau bertepatan masuk ke kondisi berat.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><span style="text-decoration: underline;">Implikasi Kita Sebagai Dokter Dalam Mengedukasi “Masuk Angin”</span></h2>



<p>Ada beberapa alasan mengapa dokter Anda mengatakan Anda terkena “masuk angin”.</p>



<p>Pertama, dokter Anda yakin bahwa ini hanya lah infeksi saluran nafas atas biasa sehingga “lebih gampang” untuk mengatakan ini masuk angin. Apakah ini benar? Tentu tidak, namun berdasarkan dari pengalaman ada beberapa kondisi yang mengakibatkan seperti ini. Paling sering pasien yang sudah membawa prekonsepsi dari awal bahwa dia terkena masuk angin, sehingga edukasi apapun yang kita berikan bahwa “masuk angin itu tidak ada” dan “ini adalah infeksi virus/bakteri” mental dengan kepercayaan si pasien bahwa dia terkena “masuk angin”.</p>



<p>Yang kedua dan yang terakhir (yang terpikirkan) adalah pengaruh budaya. Sangat sulit untuk melawan budaya terutama bagi orang yang sangat mempercayai budaya tersebut. Sehingga, kami para dokter pun terkadang “pasrah” untuk mengedukasi mengenai ketidak adanya masuk angin tersebut.</p>



<p>Nah, gua tau sampai sini ada yang befikir “Ah engga itu mah lu aja yang skill komunikasinya kurang” atau “Lu nya aja yang ga meluangkan waktu lebih untuk mengedukasi”</p>



<p>Well, points taken and they are valid points. But, disini gua membenarkan atau menyalahkan apa yang terjadi di lapangan. Instead, ini adalah sudut pandang yang gua observasi selama di lapangan. Karena, banyak dokter juga yang percaya dengan masuk angin, dan ga jarang juga dokter-dokter yang mengalami ketidaknyamanan di dada dianggap “masuk angin”, padahal serangan jantung.</p>



<p>Sekian dulu post dari kami mengenai “Bagaimana Masuk Angin Bisa Membunuh Anda”. Bila kalian suka dengan konten seperti ini jangan lupa untuk share, follow instagram kami di <a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@koas2doctor</a> dan dengarkan podcast kami (<a href="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Koas2Doctor</a>) di mana pun kalian mendengarkan podcast kalian!</p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/bagaimana-masuk-angin-bisa-literally-membunuh-anda/">Bagaimana Masuk Angin Bisa (Literally) Membunuh Anda</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/bagaimana-masuk-angin-bisa-literally-membunuh-anda/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dokter Juga Bisa Termakan Hoax</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/dokter-juga-bisa-termakan-hoax/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/dokter-juga-bisa-termakan-hoax/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Sep 2023 02:41:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Our Two Cents]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1026</guid>

					<description><![CDATA[<p>Nope, judul ini bukan sebuah click-bait yang berujung pada kami para tenaga medis melakukan shaming kepada kalian yang mudah termakan hoax atau lainnya. Apa yang kalian baca sebagai judul yaitu “Dokter Juga Bisa Termakan Hoax” [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/dokter-juga-bisa-termakan-hoax/">Dokter Juga Bisa Termakan Hoax</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Nope</em>, judul ini bukan sebuah click-bait yang berujung pada kami para tenaga medis melakukan <em>shaming</em> kepada kalian yang mudah termakan hoax atau lainnya. Apa yang kalian baca sebagai judul yaitu “Dokter Juga Bisa Termakan Hoax” adalah <em>literally</em> inti dari tulisan ini. Postingan ini sedikit memanusiakan yang sering didewakan, yaitu dokter dan termasuk juga dokter di dalam ini.</p>



<p>Baca Juga: <a href="https://koas2doctor.com/id/cara-belajar-untuk-nilai-toefl-600-dan-lebih/(opens in a new tab)/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Cara Belajar Untuk Nilai TOEFL 600 Dan Lebih!</a></p>



<p>Inspirasi dari artikel ini gua dapatkan dari sebuah grup WA yang menyebarkan sebuah postingan tentang kesehatan. <em>Now, we all know we should take this kind of post with a pinch of salt and a pair of Bombastic side-eyes</em>, tapi kalau berita ini dishare oleh dokter di dalam grup dokter, apakah berbeda ceritanya?</p>



<p>Supaya gua ga terkesan mengarang, berikut adalah tampilan screenshot yang tentu sudah gua crop nama grup dan partisipannya untuk melindungi anonimitas.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="641" height="1024" src="https://koas2doctor.com/wp-content/uploads/2023/09/WhatsApp-Image-2023-09-29-at-8.09.34-PM-641x1024.jpeg" alt="Gambar Hoax Whatsapp Kolesterol Lipitor" class="wp-image-1027" srcset="https://koas2doctor.com/wp-content/uploads/2023/09/WhatsApp-Image-2023-09-29-at-8.09.34-PM-641x1024.jpeg 641w, https://koas2doctor.com/wp-content/uploads/2023/09/WhatsApp-Image-2023-09-29-at-8.09.34-PM-188x300.jpeg 188w, https://koas2doctor.com/wp-content/uploads/2023/09/WhatsApp-Image-2023-09-29-at-8.09.34-PM-768x1228.jpeg 768w, https://koas2doctor.com/wp-content/uploads/2023/09/WhatsApp-Image-2023-09-29-at-8.09.34-PM-961x1536.jpeg 961w, https://koas2doctor.com/wp-content/uploads/2023/09/WhatsApp-Image-2023-09-29-at-8.09.34-PM-8x12.jpeg 8w, https://koas2doctor.com/wp-content/uploads/2023/09/WhatsApp-Image-2023-09-29-at-8.09.34-PM-795x1271.jpeg 795w, https://koas2doctor.com/wp-content/uploads/2023/09/WhatsApp-Image-2023-09-29-at-8.09.34-PM.jpeg 1001w" sizes="(max-width: 641px) 100vw, 641px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gambar Screenshot Hoax Whatsapp Kolesterol &amp; Lipitor</figcaption></figure>



<p>Berikut adalah teks penuh dari grup WA tersebut tanpa diedit, disadur, dikurangi, atau ditambahkan sepatah katapun:</p>



<p>INI ARTIKEL SAYA DAPAT DARI GRUP WA, SEKEDAR MENAMBAH WAWASAN KITA</p>



<p>Horee..berita bagus&#8230;..</p>



<p>Kabar baik:</p>



<p>&nbsp;Semua pengguna Lipitor bersukacita!</p>



<p>Perusahaan-perusahaan farmasi mengekstraksi USD2 triliun dari konsumen atas nama perawatan tingkat kolesterol.</p>



<p>Sungguh memalukan bagi penipuan penelitian medis dan pihak berwenang.&nbsp; Ketidakmampuan mereka menelan biaya 2 triliun dolar AS untuk orang-orang yang bugar dan sehat.</p>



<p>* Kolesterol * akhirnya secara resmi dihapus dari Daftar Nakal.&nbsp; Pemerintah AS akhirnya menerima bahwa * kolesterol * bukan bahan makanan yang menjadi perhatian_.&nbsp; * Berbelok * pada peringatan mereka kepada kami untuk menjauh dari makanan tinggi kolesterol sejak tahun 1970-an untuk menghindari penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah.</p>



<p>Ini berarti telur, mentega, produk susu penuh lemak, kacang-kacangan, minyak kelapa dan daging sekarang telah diklasifikasikan sebagai * aman * dan telah secara resmi dikeluarkan dari daftar nutrients of concern.</p>



<p>Departemen Pertanian AS, yang bertanggung jawab untuk memperbarui pedoman setiap lima tahun, menyatakan dalam temuannya untuk 2015: &#8220;Sebelumnya, Pedoman Diet untuk orang Amerika merekomendasikan agar asupan kolesterol dibatasi tidak lebih dari 300 mg / hari.</p>



<p>&#8220;DGAC 2015 tidak akan mengedepankan rekomendasi ini karena bukti yang ada menunjukkan tidak ada hubungan yang berarti antara konsumsi kolesterol makanan dan kolesterol serum (darah), konsisten dengan AHA / ACC (American Heart Association / American College of Cardiology)</p>



<p>Komite Penasihat Panduan Diet, sebagai tanggapan, tidak akan lagi memperingatkan orang-orang agar tidak mengonsumsi makanan berkolesterol tinggi dan sebagai gantinya akan fokus pada gula sebagai substansi utama yang menjadi perhatian diet.</p>



<p>Ahli jantung AS Dr Steven Nissen mengatakan: Ini keputusan yang tepat.&nbsp; Kami salah dalam pedoman diet.&nbsp; Mereka salah selama beberapa dekade. &#8220;</p>



<p>Ketika kita makan lebih banyak makanan yang kaya akan senyawa ini, tubuh kita menghasilkan lebih sedikit.&nbsp; Jika kita menghilangkan makanan tinggi kolesterol &#8211; seperti telur, mentega, dan hati &#8211; tubuh kita akan pulih.</p>



<p>Kebenaran Sejati tentang Kolesterol.&nbsp; Mayoritas kolesterol dalam diri Anda diproduksi oleh hati Anda.&nbsp; Otak Anda terutama terbuat dari kolesterol.&nbsp; Sangat penting bagi sel-sel saraf untuk berfungsi.</p>



<p>Kolesterol adalah dasar untuk penciptaan semua hormon steroid, termasuk estrogen, testosteron, dan kortikosteroid.</p>



<p>* Kolesterol tinggi dalam tubuh adalah indikasi yang jelas yang menunjukkan hati seseorang dalam keadaan sehat. *</p>



<p>George V. Mann M.D. associate director dari studi Framingham untuk kejadian dan prevalensi penyakit kardiovaskular (CVD) dan faktor-faktor risikonya menyatakan:</p>



<p>Lemak dan kolesterol tak jenuh dalam makanan bukanlah penyebab penyakit jantung koroner.&nbsp; * Mitos itu adalah penipuan terbesar abad ini, mungkin abad mana pun * _</p>



<p>* Kolesterol adalah penipuan medis terbesar sepanjang masa *</p>



<p>Tidak ada yang namanya * Kolesterol jahat *</p>



<p>Jadi, Anda bisa berhenti mencoba mengubah tingkat Kolesterol Anda.&nbsp; Penelitian membuktikan tanpa keraguan, kolesterol tidak menyebabkan penyakit jantung dan tidak akan menghentikan serangan jantung.</p>



<p>* Mayoritas orang yang mengalami serangan jantung memiliki kadar kolesterol normal. *</p>



<p>TUBUH KITA MEMBUTUHKAN 950 mg KOLESTEROL UNTUK METABOLISME HARIAN DAN HATI ADALAH produsen utama.&nbsp; HANYA 15% DARI KOLESTEROL YANG DITONTON OLEH MAKANAN YANG KAMI MAKAN.</p>



<p>&nbsp;Jika kandungan lemaknya kurang dalam makanan yang kita makan, hati kita</p>



<p>&nbsp;Harus bekerja lebih banyak untuk mempertahankan level 950 mg.</p>



<p>* Jika kadar kolesterol tinggi dalam tubuh kita, itu menunjukkan hati bekerja dengan sempurna. *</p>



<p>&nbsp;Para ahli mengatakan bahwa tidak ada yang seperti LDL atau HDL.</p>



<p>&nbsp;………… ..</p>



<p>&nbsp;… .. * Kolesterol tidak ditemukan membuat blok di mana pun di tubuh manusia *.</p>



<p>&nbsp;Silakan bagikan fakta terbaru tentang CHOLESTEROL</p>



<p>&nbsp;https://www.washingtonpost.com/news/wonk/wp/2015/02/10/feds-poised-to-withdraw-longstanding-warnings-about-dietary-cholesterol/?utm_term=.1982832f86fa jutaan manusia &amp; puluhan tahun tipu menipu?</p>



<p><em>And end</em>.</p>



<p>Tarik nafas yang dalam. Hembuskan.</p>



<p>Apa perasaan Anda? Shock? Kaget? Setuju dengan artikel tersebut? Skeptis? Bingung? Atau malah ga percaya bahwa dokter tersebut percaya dengan artikel tersebut?</p>



<p>“Tapi dok, kan share belum tentu setuju, bisa aja share karena menarik dan bukan setuju”</p>



<p>Yes, agreed. Tapi ketika dokter tersebut menunjukkan artikel tersebut di depan gue, dan menyatakan bahwa dia sependapat dengan artikel ini, SECARA LANGSUNG DI DEPAN GUE, <em>that’s when I know something is up</em>.</p>



<p><em>Now, shall we begin?</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Jadi Ini Berita Hoax Atau Bukan?</h2>



<p>Disini peran kami bukan untuk menentukan kolesterol itu baik atau jahat.</p>



<p>Bukan pula peran kami untuk mengatakan bahwa ini adalah <em>conspiracy theory</em> supaya orang-orang tetap mengkonsumsi Lipitor dan “Big Pharma” akan profitable.</p>



<p>Bukan juga peran kami disini untuk mengedukasi kalian <em>how cholesterol works</em>.</p>



<p>Tapi disini, kami mengajak untuk bersama-sama melakukan <em>fact checking</em>.</p>



<p>Yep, as simple as that.</p>



<p>Hoax sekarang cukup pintar. Selain menggunakan kata-kata persuasive, mereka biasanya akan mencantumkan nama-nama dokter seperti “Professor X di Cina yang merupakan ahli selama 20 tahun dalam bidang XYZ” atau “Dokter AAA dari Amerika mengatakan PQR”. Sumbernya? <em>Well, Only the Lord knows</em>.</p>



<p>Tapi disini mereka menjadi lebih pintar dengan mencantumkan sebuah website/link/artikel yang menurut mereka mendukung alibi mereka. Dalam kasus ini, website yang berisikan artikel dari Washington Post itu lah yang menyokong bahwa cholesterol itu hoax.</p>



<p>This is a little bit too far tapi kalau kalian notice, link website itu langsung “ditabrak” dengan kata-kata yang sangat awkward penempatannya (tanpa tombol enter untuk paragraph baru). Dan ini bukan karena kesalahan kami dalam proses pengeditan, namun tampilan di WA pun seperti itu.</p>



<p><em>As if they do not want you to directly click into the website</em>.</p>



<p>Tapi kalau kalian orang yang niat, pengangguran, jomblo, dan ga ada kerjaan kayak gue, lu akan mencari tahu dan membaca artikel tersebut. Nah, gua ambil satu paragraph dari artikel original Washington Post tersebut:</p>



<p>“<em>The new view on cholesterol in food does not reverse warnings about high levels of “bad” cholesterol in the blood, which have been linked to heart disease. Moreover, some experts warned that people with particular health problems, such as diabetes, should continue to avoid cholesterol-rich diets</em>”</p>



<p>Kalian menyadari akar permasalahannya disini?</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="&#039;I thought this was a hoax&#039;: Doctor recalls final words of Covid patient" width="1170" height="658" src="https://www.youtube.com/embed/mbPHJPk_f4g?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Kalau kalian membaca lagi kalimat di atas, pesan di WA tersebut mengatakan bahwa “Para ahli mengatakan bahwa tidak ada yang seperti LDL atau HDL” yang berbanding terbalik dengan artikel dari Washington Post yang mengatakan bahwa masih ada “kolesterol jahat” di dalam tubuh kita.</p>



<p>Sekali lagi, ini bukan post medis yang bertujuan untuk mengatakan bahwa kolesterol baik atau bukan. Tentu kita tahu konsumsi kolesterol dalam jumlah, kualitas, dan jenis tertentu tetap sangat dibutuhkan oleh tubuh kita.</p>



<p>Tapi, dengan membaca satu paragraph itu saja sudah meruntuhkan kepercayaan kita kepada pesan berantai WA itu bukan?</p>



<p>Terutama bila artikel dari Washington Post itu diposting pada tahun 2015, atau 8 tahun yang lalu. Atau ketika kami berdua masih di semester dua dan tiga.</p>



<p><em>Dude, time flies. We got old</em>.</p>



<p>Tentu rekomendasi akan terus berkembang, terutama di tahun 2023 ini. Dan selama kami masih bisa mengingat, kolesterol masih merupakan salah satu faktor resiko untuk beberapa penyakit seperti kardiovaskular dan stroke. Namun pesan berantai tersebut mengatakan bahwa kolesterol tinggi adalah pertanda “hati bekerja dengan sempurna”</p>



<p><em>Now</em>, apabila kalian membaca penuh artikel tersebut, artikel tersebut berusaha meningkatkan level skeptisisme kita terhadap diet rendah kolesterol dengan sebuah cerita anecdotal yang <em>compelling</em>. Mereka menceritakan bahwa rekomendasi diet rendah kolesterol (atau tinggi kolesterol) tidak memiliki basis bukti yang kuat atau belum ada rekomendasi yang sahih dan jelas mengenai diet dan batasan kolesterol. <em>Instead</em>, sebuah rekomendasi yang arbitrer diteruskan dari jaman dahulu dan hanya diteruskan sampai sekarang sebagai sebuah kebiasaan yang sudah kita terima.</p>



<p>Dan gua akan sangat menganjurkan kalian untuk membaca artikel tersebut lebih lanjut sebelum membaca sampai disini karena kalau kalian percaya apa kata gua 100%, sama saja mungkin kalian percaya dengan hoax-hoax berikutnya.</p>



<p>Tapi, dengan asumsi bahwa interpretasi bacaan gua benar, maka sebenarnya artikel Washington Post tersebut berusaha untuk mengajak pembacanya berfikir kritis dan mungkin kita perlu duduk bersama dan memikirkan kembali mengenai rekomendasi diet rendah kolesterol yang membuat konsumsi telur menurun dikarenakan rekomendasi “kuning telur” itu haram bagi orang yang memiliki kolesterol tinggi.</p>



<p><em>But it certainly does not say “high cholesterol is normal”.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengapa Dokter pun Juga Bisa Termakan Hoax?</h2>



<p>Ini sebuah hipotesa, dengan beberapa sitasi dengan artikel penelitian dan bukti anedoktal.</p>



<p>Feeling gue, ini merupakan sebuah hoax yang beredar di internet dan WA, ntah siapa yang meneruskan ini, tapi kemudian ada beberapa grup dokter yang membaca ini dan tidak mengkonfirmasi sumbernya dan berfikir:</p>



<p>“Tuh kan, apa kata gue, kolesterol ga bahaya kok”</p>



<p><em>Confirmation bias at its finest.</em></p>



<p>Mungkin suatu saat gua akan membahas tentang bias-bias yang ada, tapi confirmation bias is like this: lu dokter umum praktek, ketemu pasien STEMI dengan onset 1 jam (ST elevasi sangat jelas di EKG) tapi troponin I normal. Terus lu ketemu WA blast yang mengatakan EKG itu hoax, justru ST elevasi itu tanda jantung kita sempurna.</p>



<p><em>Gotcha</em>, lu kemakan berita tersebut, <em>line and sinker</em>.</p>



<p>Dan diteruskan lah berita itu ke dokter-dokter lainnya. Nah, karena yang menyebarkan ini awalnya adalah seorang dokter, terdapat sebuah “credibility bias” dimana kalian berfikir “Wah dokter kan pasti tahu apa yang dia ceritakan, ga mungkin lah dia salah” sehingga lu mempercayai kredibilitas dari WA chat ini.</p>



<p>Padahal ya belum tentu.</p>



<p><em>So it’s not the case of</em> dokter, termasuk dokter juga bisa termakan hoax, more so karena dokter-dokter juga tidak mengkonfirmasi sumber atau tidak membaca lebih lanjut mengenai sumber yang dicantumkan.</p>



<p><a href="https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7532320/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Sebuah artikel</a> mengatakan bahwa semua orang, termasuk dokter, dapat termakan hoax. Pertanyaannya adalah apakah ini generalized trait (sebuah sifat umum)&nbsp; atau context dependent (spesifik kepada konteks tertentu. Tentu kita tidak perlu melihat lebih jauh dari COVID-19 ketika seluruh dunia tiba-tiba terbagi menjadi dua, termasuk para akademisi dan dokter mengenai COVID-19. <a href="https://www.npr.org/sections/health-shots/2021/09/14/1035915598/doctors-covid-misinformation-medical-license" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Tidak jarang banyak pula tenaga medis yang termakan hoax mengenai COVID-19</a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kesimpulan</span></strong></h2>



<p>Semua orang bisa termakan hoax, termasuk dokter umum dan dokter. Namun, kita sebagai tenaga medis, harus berhati-hati dalam merekomendasikan sesuatu sebelum kita sendiri yakin dapat mengkonfirmasi berita tersebut. <em>Otherwise</em>, orang-orang yang mempercayai kompetensi kita akan meragukan pendapat kita, and <em>science and health will be ultimately doomed to fail (more on that on next posts).</em></p>



<p>Sekian dulu untuk post kali ini mengenai “Dokter Juga Bisa Termakan Hoax”. Bila kalian suka dengan konten ini kalian dapat mengecek Podcast kami di <a href="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Koas2Doctor</a> dan memfollow instagram kami di <a href="https://instagram.com/koas2doctor" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@koas2doctor</a>. <em>Leave a comment, share this to your friend and we will see you guys soon</em>!</p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/dokter-juga-bisa-termakan-hoax/">Dokter Juga Bisa Termakan Hoax</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/dokter-juga-bisa-termakan-hoax/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Episode 63: Just Another Indonesian Going to Germany for PPDS (Ft. dr. Ricardo Tan)</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/episode-63-just-another-indonesian-going-to-germany-for-ppds-ft-dr-ricardo-tan/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/episode-63-just-another-indonesian-going-to-germany-for-ppds-ft-dr-ricardo-tan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Sep 2023 13:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Podcast Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Podcast]]></category>
		<category><![CDATA[Ricardo Tan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1019</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hola! Setelah sekian lama kita tidak mengundang narasumber, kali ini kita kembali mengundang seorang narasumber yang kebetulan juga PPDS di German dalam bidang radiologi. Bagi kalian yang tertinggal, sebelumnya sudah ada konten PPDS Germany yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/episode-63-just-another-indonesian-going-to-germany-for-ppds-ft-dr-ricardo-tan/">Episode 63: Just Another Indonesian Going to Germany for PPDS (Ft. dr. Ricardo Tan)</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><iframe loading="lazy" src="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor/embed/episodes/Episode-63-Just-Another-Indonesian-Going-to-Germany-for-PPDS-Ft--dr--Ricardo-Tan-e29ji0q" height="180px" width="100%" frameborder="0" scrolling="no" style="width:100%;height:180px"></iframe></p>
<p>Hola!</p>
<p>Setelah sekian lama kita tidak mengundang narasumber, kali ini kita kembali mengundang seorang narasumber yang kebetulan juga PPDS di German dalam bidang radiologi. Bagi kalian yang tertinggal, sebelumnya sudah ada konten PPDS Germany yang bisa kalian <a href="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor/episodes/Episode-56-PPDS-di-German-Ft--dr--Kevin-Christian-e25dlcl" target="_blank" rel="noopener noreferer">dengarkan disini</a>, tentunya setelah kalian mendengarkan episode ini.</p>
<p>Bersama <a href="https://www.instagram.com/ricardootan/" target="_blank" rel="noopener noreferer">dr. Ricardo Tan</a>, kita akan membahas lebih in-depth mengapa dia memilih German, apakah advantage Ricardo going into Germany, dan mengapa pada akhirnya dia memilih radiologi ketika awalnya pada saat pre-klinik dia jatuh cinta dengan Kardiologi?</p>
<p>Kalau kalian suka dengan konten seperti ini, jangan lupa didownload, dishare, dan berpartisipasi dalam polling kami ya!</p>
<p>Konten utama kami terdapat di <a href="https://koas2doctor.com/id/">⁠koas2doctor.com⁠</a> dan instagram kami di <a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/">⁠@koas2doctor⁠</a>. Please do support us dengan cara mengunjungi dan memfollow social media account kami.</p>
<p>All comments are welcomed via our blogs atau melalui <a href="https://koasdoct@gmail.com/">⁠email kami⁠</a>!</p>
<p>Music used for this podcast is credited to <a href="https://pixabay.com/music/beats-awakening-instrumental-1165/">⁠Jonas Bjørnstad</a></p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/episode-63-just-another-indonesian-going-to-germany-for-ppds-ft-dr-ricardo-tan/">Episode 63: Just Another Indonesian Going to Germany for PPDS (Ft. dr. Ricardo Tan)</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/episode-63-just-another-indonesian-going-to-germany-for-ppds-ft-dr-ricardo-tan/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Episode 62 : Bullying Koas, Memangnya Ada?</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/episode-62-bullying-koas-memangnya-ada/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/episode-62-bullying-koas-memangnya-ada/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Sep 2023 12:57:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Podcast Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Bullying Koas]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Podcast]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1018</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hello Gaise! Di episode kali ini, kita akan sedikit riding the wave, tapi ala-ala. Karena, kalau yang lagi heboh itu adalah bullying PPDS, kita akan ngebahas bullying pada koas. Hah? Bullying? Koas? Emangnya ada? Welp, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/episode-62-bullying-koas-memangnya-ada/">Episode 62 : Bullying Koas, Memangnya Ada?</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><iframe loading="lazy" src="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor/embed/episodes/Episode-62--Bullying-Koas--Memangnya-Ada-e28vbib" height="180px" width="100%" frameborder="0" scrolling="no" style="width:100%;height:180px"></iframe></p>
<p>Hello Gaise!</p>
<p>Di episode kali ini, kita akan sedikit <em>riding the wave</em>, tapi ala-ala. Karena, kalau yang lagi heboh itu adalah bullying PPDS, kita akan ngebahas bullying pada koas.</p>
<p>Hah? Bullying? Koas? Emangnya ada?</p>
<p><em>Welp, we did not make this up</em>. Penasaran? Dengerin ya!</p>
<p>Konten utama kami terdapat di <a href="https://koas2doctor.com/id/">⁠koas2doctor.com⁠</a> dan instagram kami di <a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/">⁠@koas2doctor⁠</a>. Please do support us dengan cara mengunjungi dan memfollow social media account kami.</p>
<p>All comments are welcomed via our blogs atau melalui <a href="https://koasdoct@gmail.com/">⁠email kami⁠</a>!</p>
<p>Music used for this podcast is credited to <a href="https://pixabay.com/music/beats-awakening-instrumental-1165/">⁠Jonas Bjørnstad</a></p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/episode-62-bullying-koas-memangnya-ada/">Episode 62 : Bullying Koas, Memangnya Ada?</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/episode-62-bullying-koas-memangnya-ada/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Episode 61 : Gagal Masuk PPDS FK UI. What&#8217;s Next?</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/episode-61-gagal-masuk-ppds-fk-ui-whats-next/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/episode-61-gagal-masuk-ppds-fk-ui-whats-next/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Sep 2023 12:54:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Podcast Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Gagal PPDS FK UI]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Podcast]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1017</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hello Gaise! Di episode kali ini, sesuai dengan judul yang kalian baca, gua akan mencoba sedikit lebih vulnerable dan open up tentang kegagalan gue. Gua akan menjelaskan mengapa kita sempat hilang 2 minggu (again), proses [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/episode-61-gagal-masuk-ppds-fk-ui-whats-next/">Episode 61 : Gagal Masuk PPDS FK UI. What&#8217;s Next?</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><iframe loading="lazy" src="https://podcasters.spotify.com/pod/show/koas2doctor/embed/episodes/Episode-61--Gagal-Masuk-PPDS-FK-UI--Whats-Next-e2813n3" height="180px" width="100%" frameborder="0" scrolling="no" style="width:100%;height:180px"></iframe></p>
<p>Hello Gaise!</p>
<p>Di episode kali ini, sesuai dengan judul yang kalian baca, gua akan mencoba sedikit lebih vulnerable dan open up tentang kegagalan gue. Gua akan menjelaskan mengapa kita sempat hilang 2 minggu (again), proses mendaftar dan ujian, dan apa yang gua alami.</p>
<p>Konten utama kami terdapat di <a href="https://koas2doctor.com/id/">⁠koas2doctor.com⁠</a> dan instagram kami di <a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/">⁠@koas2doctor⁠</a>. Please do support us dengan cara mengunjungi dan memfollow social media account kami.</p>
<p>All comments are welcomed via our blogs atau melalui <a href="https://koasdoct@gmail.com/">⁠email kami⁠</a>!</p>
<p>Music used for this podcast is credited to <a href="https://pixabay.com/music/beats-awakening-instrumental-1165/">⁠Jonas Bjørnstad</a></p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/episode-61-gagal-masuk-ppds-fk-ui-whats-next/">Episode 61 : Gagal Masuk PPDS FK UI. What&#8217;s Next?</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/episode-61-gagal-masuk-ppds-fk-ui-whats-next/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 42/154 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching 29/69 queries in 0.433 seconds using Redis

Served from: koas2doctor.com @ 2026-10-07 08:15:04 by W3 Total Cache
-->