<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Diary Koas2Doctor Archives - Koas2Doctor</title>
	<atom:link href="https://koas2doctor.com/id/category/diary-koas2doctor/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://koas2doctor.com/id/category/diary-koas2doctor/</link>
	<description>Mentor Anda Dalam Menghadapi Dunia Kedokteran</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Jul 2023 06:24:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updateperiod>
	hourly	</sy:updateperiod>
	<sy:updatefrequency>
	1	</sy:updatefrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.12</generator>

<image>
	<url>https://koas2doctor.com/wp-content/uploads/2020/05/cropped-FAVICON-BENER-32x32.png</url>
	<title>Diary Koas2Doctor Archives - Koas2Doctor</title>
	<link>https://koas2doctor.com/id/category/diary-koas2doctor/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Budgetting Dari Tahun 2021 Hingga 2023: Bagaimana Hasilnya?</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/budgetting-dari-tahun-2021-hingga-2023-bagaimana-hasilnya/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/budgetting-dari-tahun-2021-hingga-2023-bagaimana-hasilnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Jul 2023 06:24:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Diary Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Finansial]]></category>
		<category><![CDATA[literasi keuangan]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=1002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Horas Sahabat Koas2Doctor! Mohon maaf banget nih kita vakum hampir 7 bulan. Apa kabarnya? Semoga baik dan sehat selalu. Banyak hal yang terjadi selama 6 bulan terakhir dimana kami harus memilih antara website blogpost ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/budgetting-dari-tahun-2021-hingga-2023-bagaimana-hasilnya/">Budgetting Dari Tahun 2021 Hingga 2023: Bagaimana Hasilnya?</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Horas Sahabat Koas2Doctor! Mohon maaf banget nih kita vakum hampir 7 bulan. Apa kabarnya? Semoga baik dan sehat selalu. Banyak hal yang terjadi selama 6 bulan terakhir dimana kami harus memilih antara website blogpost ini atau podcast, dan podcast lah yang diutamakan. Kali ini kami akan kembali posting regular dan semoga dapat diterima dengan baik. Dimulai dengan tema budgetting dari tahun 2021 hingga 2023, apa hasil dan pelajaran yang bisa gua peroleh?</p>



<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Baca Juga:</span></strong> <a href="https://koas2doctor.com/id/total-uang-koas-fk-uph-2022-2023/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Total Uang Koas FK UPH 2022/2023</a></p>



<p>Seperti yang kita tahu pada masa pandemi, banyak hal yang terjadi dan perubahan-perubahan yang sebelumnya kita anggap tidak mungkin terjadi, terjadilah. Sebelum pandemi, yang which is pas itu baru banget gua selesai UKMPPD, tidak terbesit sekalipun untuk mengatur keuangan.</p>



<p>“Untuk apa sih ngatur keuangan, punya duit aja belum”</p>



<p>Dan pikiran itu bukan hanya terbesit setelah lulus dari UKMPPD dan dihantam dengan realita harus internship dan mencari duit, namun ketika dari pre-klinik sudah memegang uang pun tidak pernah ada budgetting yang gue lakukan sehari-hari. Bahkan, tidak jarang dalam satu bulan gue meminta uang jajan tambahan dikarenakan terlalu boros. <em>Yep, that’s me</em>.</p>



<p>Kemudian pas pandemi, banyak hal yang terjadi – salah satunya adalah ekonomi yang memburuk. Semua sektor terkena imbas dari dampak ekonomi, dari yang kehilangan pekerjaan sampai yang harus terjebak pinjaman akibat dampak tidak dapat membayar kredit cicilan. Bagi kita yang belum bekerja atau yang keluarganya masih diberkati dan dilindungi sehingga tidak terlalu terdampak secara finansial, mungkin kita memiliki lebih banyak waktu santai yaitu membaca, memasak, jualan kecil-kecilan, menjadi influencer, dan hal-hal lain yang tidak dapat kita lakukan akibat rutinitas yang menggerogoti waktu kita.</p>



<p>Salah satunya mungkin adalah terpapar dengan konten literasi finansial.</p>



<p>Pada waktu pandemi, salah satu konten yang sedang naik daun adalah <a href="https://www.dissectingmoney.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Dissecting Money</a>. Sebuah blog dan podcast yang diusung oleh dr. Jephtah Tobing, SpOT (sekarang konsultan spine), dimana beliau mengajarkan, mengedukasi, dan meningkatkan awareness mengenai literasi finansial, terutama di kalangan dokter.</p>



<p><em>I devoured his content.</em></p>



<p>Mata gua terbuka akan pentingnya literasi finansial, mulai dari budgetting terlebih dahulu untuk memastikan sebagai langkah awal fondasi keuangan yang sehat. Seringkali orang-orang langsung berfikir ke investasi, merogoh kocek ratusan hingga jutaan untuk kelas-kelas terbaru yang mengajarkan cara trading dan investasi. Ada juga yang langsung mengikuti trend-trend seperti robot trading, bitcoin, NFT, dan lain sebagainya. Dissecting money juga mengajarkan bagaimana caranya supaya tidak terjebak untuk hal-hal seperti itu. Mulailah gua merencanakan budget yang dimulai dari tahun 2021 hingga sekarang di tahun 2023 dan baru gua melihat lagi hasil dari budgetting gue.</p>



<p>Mulai saja dulu dari budgetting – <em>you will thank your past self later. And I did</em>.</p>



<p>Nah, disini gua akan membeberkan apa hasil budgetting gua. Let’s define some boundaries here. Gua cuma akan menspill savings rate gua. Dikarenkan gua masih belum nyaman menspill gaji gue, dan anyway bukan sebuah nominal yang bisa diflex juga. Ada beberapa catatan juga yaitu gua memiliki spending rutin seperti <em>monthly gym membership</em> sebesar 220 ribu, obat-obatan rutin untuk keluarga berkisar di 200 hingga 600 ribu sebulan, asuransi pribadi, dan donasi 10% dari gaji yang gua terima per bulan (sebelum dipotong spending), serta 500 ribu untuk kontrol kawat gigi per bulannya.</p>



<p>Gua mulai melakukan budgetting dari Agustus 2021 dan savings rate gue berkisar di antara 20-60%. Gua bukan tipe yang spending untuk hal-hal seperti baju, tas, nongkrong di kedai kopi, atau beli gadget. Tapi gua sering banget beli buku di tahun 2021, terutama karena pandemi, banyak buku yang didiskon, banyak Big Bad Wolf sale, jadi jujur gua tergiur untuk menghabiskan gaji gua disana. Income gue di tahun ini berasal dari internship dan freelance. Gua akan membahas lebih lanjut tentang pekerjaan freelance gua di blogpost yang akan datang.</p>



<p>Di tahun 2022, gua mulai bekerja di awal Februari, dan di tahun ini savings rate gua hanya 18.3% dengan rentang savings 3 – 52%. Di tahun ini, gua udah mulai membayarkan asuransi pribadi sendiri (yang sebelumnya dibayarkan orang tua). Di bulan Januari, savings rate gua hanya 8%. Alasannya? Income dari internship sudah kepotong dan bergantung purely dari freelance. Tapi, tentu tidak menjelaskan mengapa savings rate gua hanya 3% pada suatu bulan. Turns out, sesuai kata Dissecting Money, income lu naik bukan berarti savings rate lu auto naik, terutama kalau lu tidak disiplin.</p>



<p><em>And I was not disciplined enough</em>.</p>



<p>Di tahun 2022 itu adalah tahun pertama dimana gua merasakan income double digit dan gua pikir “Ga mungkin lah ya gua bisa habis banyak – toh income gue sudah jauh lebih banyak”. <em>And my spending did not increase</em>. Gua juga sudah mencut down untuk membeli buku dan lifestyle gua tidak ada perubahan sama sekali. Lalu, bocornya dimana?</p>



<p>Pertama, asuransi gua pada saat itu kemahalan. <em>To be fair</em>, orang tua gua yang mensign up untuk asuransi gue, but to be completely honest ya salah gua juga sih. Tidak mendouble-check apa yang gua beli dan seterusnya. Akhirnya at the end of the year gua memutuskan untuk menurunkan premi asuransi gue, sesuai dengan kebutuhan. <em>Second of all</em>, dan menurut gue penyebab yang paling membuat gua boros setahun itu adalah mengikuti kegiatan pelatihan dan simposium di Jakarta. Kalau my memory serves me right, ada 3 pelatihan di Jakarta yang gua ikutin yaitu APRC, Resusitasi Neonatus, dan Konsultan Manajemen Kesehatan. Bila dihitung untuk biaya tiket bolak balik pesawat, biaya Grab, jalan-jalan (catch-up dengan teman), maka bisa habis gaji sebulan untuk satu kali acara di Jakarta. <em>Excluding January</em>, ada tiga bulan dimana savings rate gua itu 10% dan kebawah. <em>Lastly</em>, gua juga masih mengikuti pelatihan zoom online yang berbayar dan masih gemar membeli buku-buku, baik itu buku pelajaran ataupun novel<em>. So yeah, there goes my money</em> in 2022.</p>



<p>Nah, di tahun 2023 gua harusnya lebih baik lagi dong since ga ada pelatihan lagi? <em>Wrong</em>! Sampai dengan bulan income gua di bulan Juni ini, savings rate gua hanya bertengger di 10.6%, jauh lebih rendah dari bulan-bulan kemarin. Loh kok? Bocor dimana?</p>



<p>So, di tahun ini gua sedang mencoba untuk mendaftar PPDS dan let me tell you, biayanya sama sekali tidak murah. Dari persiapan les untuk SIMAK, les untuk prodi, tiket bolak balik ujian psikotes, prodi, dan wawancara, semuanya memakan biaya yang tidak murah. Bahkan, di bulan ujian prodi dan wawancara, savings rate gua 0%. <em>It’s that bad</em>. Tapi seengaknya gua ga perlu berhutang untuk mencover those expenses.</p>



<p>Apa pelajaran yang bisa gua petik dari sini?</p>



<p>Budgetting is crucial. Gua jadi tahu seberapa borosnya gua sehari-hari. Even dengan budgetting, savings rate gua masih rendah sekali, padahal biaya yang keluar untuk pengeluaran aneh-aneh hampir tidak ada. Gua tidak bisa membayangkan kalau gua ga budget, pasti amburadul semuanya keuangan gue. So, bagi kalian yang belum melakukan budgetting, start now. Cukup ngebuka excel aja, sisanya tinggal menginput pengeluaran bulanan, ga bakal memakan waktu lebih dari 30 menit per bulannya kalau sudah terbiasa.</p>



<p>Sekian untuk topik kita kali ini mengenai Budgetting dari tahun 2021 hingga 2023 dan apa hasil yang gua peroleh. Kalian suka dengan topik seperti ini? Let us know in the comments section dan we will be back with some other topics! See you guys!</p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/budgetting-dari-tahun-2021-hingga-2023-bagaimana-hasilnya/">Budgetting Dari Tahun 2021 Hingga 2023: Bagaimana Hasilnya?</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/budgetting-dari-tahun-2021-hingga-2023-bagaimana-hasilnya/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Quarter-Life Crisis Saat Koas – Part 1</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/quarter-life-crisis-saat-koas-part-1/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/quarter-life-crisis-saat-koas-part-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2021 08:46:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Diary Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Quarter life crisis]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=684</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oke, kali ini gw mau sharing dikit pengalaman gw ngalamin (yang gw diagnosis sendiri) quarter life crisis disaat gw koas. Sebelum ada yang nyeletuk “apaan jer quarter life crisis?” Gw bakal jelasin dulu. Quarter life [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/quarter-life-crisis-saat-koas-part-1/">Quarter-Life Crisis Saat Koas – Part 1</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oke, kali ini gw mau sharing dikit pengalaman gw ngalamin (yang gw diagnosis sendiri) <em><a href="https://www.idntimes.com/life/inspiration/vita/tanda-quarter-life-crisis" target="_blank" rel="noreferrer noopener">quarter life crisis</a></em> disaat gw koas.</p>



<p>Sebelum ada yang nyeletuk</p>



<p>“apaan jer quarter life crisis?”</p>



<p>Gw bakal jelasin dulu.</p>



<p>Quarter life crisis sendiri itu bukan diagnosis medis ya.</p>



<p>Baca juga: <a href="https://koas2doctor.com/id/komponen-penilaian-ukmppd-apa-saja-yang-dinilai/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Komponen Penilaian UKMPPD: Apa Saja Yang Dinilai?</a></p>



<p>Ini kita bukan bahas suatu penyakit atau gangguan psikiatris yang “real” ada di buku-buku  dan mungkin yang lebih terkenal itu juga saudaranya si quarter life crisis ini, yaitu mid life crisis.</p>



<p>So, paan sih ini krisis2?</p>



<p>Quarter (seperempat), life (hidup), dan crisis (krisis)&#8230;</p>



<p>Berarti seperempat hidup kita sedang suram?</p>



<p>Since krisis itu menurut KBBI kan artinya suatu keadaan yang suram atau genting.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Tapi ya ga gitu juga anjayy</p>



<p>Gampangnya si mid life dan quarter life crisis itu adalah fase di hiduplu dimana lu tuh ngerasa galau terus sama kehidupan lu.</p>



<p>Biasanya lu jadi mempertanyakan pilihan2 hidup lu, lu merasa ga cocok sama pekerjaan atau keadaan hidup lu saat ini.</p>



<p>Lu kadang merasa kayak mau ganti karir atau apapun deh yang berubah dari keadaan sekarang ini.</p>



<p>Atau mungkin kalau gw pribadi itu sebetulnya akar pertanyaannya:</p>



<p>&#8220;Apa sih <em>purpose</em> gw?&#8221;</p>



<p>Beda antara quarterlife sama midlife?</p>



<p>Yah kalo quarter life kira &#8211; kira dialamin pas umur</p>



<p>20 &#8211; 30 tahun-an.</p>



<p>Sementara mid life sekitar umur 40 tahun-an</p>



<p>Jadi buat kalian2 yang lagi merasakan&nbsp; ini, tenang aja.</p>



<p>Hal yang kalian rasakan itu normal kok.</p>



<p>Banyak yang ngerasain juga.&nbsp;</p>



<p><em>It is normal and it is okay</em></p>



<p><em>with that out of the way</em></p>



<p>Sekarang gw bakal cerita tentang pengalaman gw sendiri menghadapi life crisis ini sebagai mahasiswa kedokteran atau lebih tepatnya sebagai koas/coass/koass/koasisten/keset dan apapun itu sebutan lainnya.</p>



<p>Kenapa gw spesifik sebutin pas koas?</p>



<p>Karena dari cerita yang gw denger, buat mahasiswa kedokteran, koas itu merupakan masa &#8211; masa yang sulit.</p>



<p>Sulit dan banyak perubahan.</p>



<p>Kalau gw inget &#8211; inget lagi.. mungkin sebetulnya bibit &#8211; bibit life crisis ini udah ada semenjak gw di pre-klinik.</p>



<p>Bayangkan gw saat itu sebagai seorang remaja yang ga terlalu tau tentang dunia kedokteran,</p>



<p>Tapi memutuskan jadi dokter karena sepertinya menarik dan seumur &#8211; umur kalian hanya tau pekerjaan itu ngapain ya dokter.</p>



<p>Tanpa sebenernya tau juga jadi dokter itu kayak gimana. Gw suka biologi</p>



<p>Nah itu keadaan gw pas masuk&nbsp; ke fk.</p>



<p>Saat masuk juga gw kira perjuangan gw akan selesai setelah gw berhasil menjadi dokter umum.</p>



<p>Yang saat itu di bayangan gw jg dokter umum itu kerjanya ya cuman di poli praktek nunggu pasien, nanti nanya2 pasien dikit, mungkin ada menyelamatkan nyawa sedikit.</p>



<p>Dan gw kira bakal financially secure setelah dokter umum.</p>



<p>Kalau kalian follow post post k2d, kalian tau realitanya kayak apa finance sebagai dokter umum&nbsp; <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/15.0.3/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Tapi sampai situ gw masih semangat dengan dunia kedokteran.</p>



<p>Karena gw memang suka sama ilmunya, jadi gw masih optimis bahwa gw bisa menikmati kehidupan belajar seumur hidup di kedokteran.</p>



<p>Trigger utama gw mulai mempertanyakan hidup gw sebagai dokter muncul pas koas.</p>



<p>Karena kalau sebelumnya gw bisa tentram sebatas baca buku dan belajar, pas koas kita baru bener terjun ke dunia “kedokteran” yang sebenarnya.</p>



<p> Dunia dimana untuk pertama kalinya gw mendapatkan sneak peek keseharian sebagai seorang dokter itu seperti apa.</p>



<p><em>And what I saw and experienced was not nice</em></p>



<p>Jam kerja yang harus bangun pagi dan pulang tengah malam.</p>



<p>Melihat konsulen &#8211; konsulen yang sudah mencapai “tujuan akhir” di kedokteran bekerja terus menerus hampir tanpa waktu untuk kehidupan lain di luar rumah sakit.</p>



<p>Melihat, bertemu, dan merawat oknum pasien &#8211; pasien yang terkadang menguji emosi dengan segala kelakarnya. </p>



<p>Serta beberapa “sejawat nakes” yang menganggap koas sebagai budak yang bisa disuruh &#8211; suruh dan di palak.</p>



<p><em>It’s one thing to be treated as a slave and extorted by senior doctors that actually teaches you. Its another thing entirely when the bastard is not even teaching you anything”</em></p>



<p>-rant by NGHR</p>



<p>Yah kira &#8211; kira seperti itu sih trigger gw ngalamin quarter life crisis gw.</p>



<p>Buat detail tentang apa yang gw pikirkan selama gw ngalamin quarter life crisis dan gimana akhirnya gw berdamai dengan krisis itu, serta tips and trick buat kalian yang lagi galaw krisis hidup juga…</p>



<p>Gw bakal post sisanya di part 2 beberapa minggu lagi.</p>



<p>(Abis giliran gilbert bikin post minggu depan) &#8211; Yes nic, point well-received.</p>



<p>Soo, terima kasih sudah membaca post quarter-life crisis disaat koas dan ciao!</p>



<p>P.S: Jangan lupa untuk memfollow instagram kami <a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@koas2doctor</a> dan podcast kami dengan nama yang sama di platform mana pun kalian mendengarkan ini!</p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/quarter-life-crisis-saat-koas-part-1/">Quarter-Life Crisis Saat Koas – Part 1</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/quarter-life-crisis-saat-koas-part-1/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Partner Jaga Malam Paling Berkesan Saat Koas</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/partner-jaga-malam-paling-berkesan-saat-koas/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/partner-jaga-malam-paling-berkesan-saat-koas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2021 15:55:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Diary Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[Koass]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman Jaga Malam]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=655</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ah, jaga malam saat koas. Ada yang bilang jaga malam itu seru, menyenangkan, dan pengalaman belajar yang baik. Ada juga yang jaga malam itu identik dengan pengalaman paling mengerikan yang di identikan dengan kiamat dunia. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/partner-jaga-malam-paling-berkesan-saat-koas/">Partner Jaga Malam Paling Berkesan Saat Koas</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ah, jaga malam saat koas.</p>



<p>Ada yang bilang jaga malam itu seru, menyenangkan, dan pengalaman belajar yang baik.</p>



<p>Ada juga yang jaga malam itu identik dengan pengalaman paling mengerikan yang di identikan dengan kiamat dunia.</p>



<p>Gw pribadi ada di antara kedua ekstrim itu.</p>



<p>Gw setuju jaga malam itu kesempatan dapat pengalaman. Tapi kalau dibilang gw suka jaga malam… ya engga juga si.</p>



<p>Terutama karena sebagai koas, jaga malam itu ga di sambung dengan “lepas jaga”. Jadi habis masuk dari jam 7 (atau kurang) seperti dinas siang pada umumnya, lalu dilanjut jaga malam sampai pagi lagi, setelahnya harus dinas pagi lagi sampai jam 4 (atau lebih).</p>



<p>Soo, excited about it? no. cape sih.</p>



<p>Dapet pengalaman? ya iya sih.</p>



<p>Yah in the end, just another day in koas life</p>



<p>Tapi yang pasti ga semua pengalaman jaga malam itu sama.</p>



<p>Banyak faktor yang bisa berkontribusi terhadap jaga malam kalian.</p>



<p>Berapa banyak pasien yang masuk, seberapa jelek pasien yang masuk, dokter dan perawat yang jaga bareng, konsulen yang on call, dan PARTNER JAGA MALAM BARENG SAAT KOAS.</p>



<p>Nah sekarang gw mau sharing salah satu pengalaman gw jaga bersama teman jaga yang cukup “spesial”</p>



<p>Kita sebut saja dia koas JBP &#8211; Partner jaga malam koas anak gue.</p>



<p>Supaya sekedar tau, bagi kalian yang belum pernah jaga malam. Pada umumnya jaga malam itu terdiri dari sekitar 2 koas per stase.<br><br>Nah 2 orang yang jaga itu nanti akan saling membantu dan kadang bergantian jaganya.jadi misalnya jaga berdua, kita terkadang bisa membagi jaga menjadi: jaga bersama sampai jam 12 malam, lalu jam 12 &#8211; 3 tidur untuk koas 1 lalu tukeran jam 3 &#8211; 6 tidur untuk koas 2.</p>



<p>Kenapa sampai jam 12 jaga bareng? karena sebetulnya perseptor kita maunya koas yang jaga 2 orang itu jaga full tanpa tuker2an <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/15.0.3/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p><em>But hey, we gotta do what we gotta do to survive</em></p>



<p>Saling membantu misalnya dengan pembagian tugas. Karena saat jaga malam, terkadang koas juga harus membuat laporan jaga malam. Nah kalau sedang ada pasien, ini berarti salah satu akan bergantian mendatangi pasien dan partnernya bisa stay di belakang untuk membuat laporannya.</p>



<p>Kebayang dong sekarang seberapa penting partner jaga koas anak sekarang? <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/15.0.3/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Gw pribadi juga umumnya seperti itu. dan sistem itu walaupun tetap capek, tapi paling ga bisalah untuk dijalanin. Setelah cukup lama, gw pun mulai terbiasa dengan sistem itu.</p>



<p>TAPI SEMUA BERUBAH KETIKA KOAS JBP menyererang.</p>



<p>Jadi ceritanya gw lagi stase anak.</p>



<p>Note: stase anak itu terkenal sebagai salah satu stase yang paling berat. baik karena memang sulit, perseptor ada yang galak, dan tugas yang cukup banyak.</p>



<p>Di stase anak ini, kita akan beberapa kali perlu membuat dan mempresentasikan laporan kasus setiap habis jaga.</p>



<p>Demi keamanan juga, kita harus memastikan UGD TIDAK BOLEH KOSONG DARI KOAS ANAK.</p>



<p>Karena kalau kalau sewaktu &#8211; waktu perseptor datang cek dan tidak ada koas disitu… yah koas yang jadwal jaga itu mending udahlah cuti akademik aja sekalian</p>



<p>Di stase yang genting ini… kebetulan partner jaga malam koas anak gw ini cukup mantap2 gimana gitu.</p>



<p>JBP itu unik.</p>



<p>Unik gimana? yah&#8230;</p>



<p>Dia memang agak sulit dalam berhubungan sosial, dan mungkin memang akalnya sedikit berbeda dengan kita.</p>



<p>Jadi begini ceritanya.</p>



<p>Ini gw ceritain pengalaman jaga pertama sama dia.</p>



<p>Saat gw jaga dengan dia, pasti dong seperti koas pada umumnya gw bakal tanya. mau bagi shift kayak gimana?</p>



<p>Siapa yang mau tidur dulu, mau kerjain laporan kasus gimana, dll dll</p>



<p>Sampai penentuan itu semua berjalan lancar.</p>



<p>Karena dia iya2 aja kayaknya.</p>



<p>Dan memang masalah baru muncul saat jam 11.00 malam.</p>



<p>Sekitar jam itu kita udah sempat menerima beberapa pasien. Untungnya belum ada pasien yang terlalu parah, tapi kita udah menentukan pasien mana yang bakal kita jadiin laporan kasus.</p>



<p>Kondisi lagi santai di igd, pasien anak belum muncul lagi.</p>



<p>Gw kira “ah yes, ini bakal jadi jaga malam yang indah”&#8230;.</p>



<p>And thats when i jinxed it.</p>



<p>Saat itulah gw mulai melihat, kok JBP udah duduk dan g bergerak &#8211; gerak dari tadi.</p>



<p>Sebagai teman koas yang baik, yaudah gw memaklumi aja dan biarin dia terus tidur di kursi itu.</p>



<p>Since toh emang lagi ga ada pasien kan.</p>



<p>Sekitar jam 12 an gw pikir, ya mungkin sekarang saatnya kita mulai buat bikin laporan kasus.</p>



<p>Jadi gw mulai bangunin JBP.</p>



<p>Habis gw panggil dan tepok tangannya dengan sedikit terkejut dia bangun.</p>



<p>“hrrghh hah?!! kenapa2” kata dia sambil masih setengah bangun.</p>



<p>“kerjain lapas yok ko, buat besok. yok liat pasiennya dulu”</p>



<p>“Hmmh, oke2” kata dia.</p>



<p><em>So far so good</em></p>



<p>Gw pun mulai siap &#8211; siap buat bikin power point.</p>



<p>Sambil gw nyalain laptop, gw iseng dan liat ke arah JBP.</p>



<p>Mau liat aja dia lagi ngapain. mungkin dia lagi siap beres2 buat ke pasien supaya bisa ambil data terbarunya.</p>



<p>Dan saat itulah gw melihat.</p>



<p>Sesosok koas yang sedang tertidur dengan sangat nyenyak.</p>



<p>hmm yah mungkin dia ketiduran lagi. Pikir gw</p>



<p>Jadi sambil nunggu laptopnya siap, gw bangunin lagi beliau.</p>



<p>Dengan sedikit kaget (lagi) dia pun bangun.</p>



<p>“ko tolong coba ke pasiennya ya ambil data, gw siapin ppt dulu pake data yang udah ada”</p>



<p>“hmmrh, oh yaya. oke2” kata dia dengan nada ngantuk2 yang cukup khas</p>



<p>Gw lanjut mengurus laptop gw.</p>



<p>Ga sampai 5 menit pas gw lagi buka powerpoint, gw tengok lagi dia…</p>



<p>Dan gw melihat lagi sosok seorang koas yang tertidur lelap.</p>



<p>…&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>



<p>Sekitar 5x pengulangan hal diatas kemudian</p>



<p>Akhirnya gw memutuskan buat mengambil datanya sendiri.</p>



<p>Sambil gw mau mengambil data, karena gw masih optimis, gw kasih laptop gw ke dia (setelah bangunin lagi).</p>



<p>“Ko yaudah tolong ini masukin aja tulisannya yang udah ada ke ppt. gw ambil data dulu. masukin aja gapapa nanti gw beresin”</p>



<p>Kata gw sebelum cabut buat ambil data pasien terbaru,</p>



<p>Sekitar 30 menit kemudian, setelah gw selesai ambil data2 terbaru pasien. Gw balik ke ruangan jaga buat melihat progress power pointnya.</p>



<p>Dan disitu gw ngeliat ada sesosok koas yang tertidur dengan laptop gw di pangkuannya.</p>



<p>Oke,</p>



<p><em>Thats it</em></p>



<p>Gw menyerah.</p>



<p>Saat ini gw ada 2 opsi:</p>



<ol type="1"><li>Marah &#8211; marah ke dia karena tidak bisa mengerjakan tugas yang udah dibagi</li><li><em>Save the boa</em>t from sinking by myself</li></ol>



<p><em>At this point I’m not even mad</em>.</p>



<p><em>Why?</em></p>



<p>Karena gw tau memang JBP ini sedikit ada kekurangan dan karena memang gw udah cape juga buat konflik.</p>



<p>+Gw memang penyabar dan baik hati <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/15.0.3/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Gw ambil opsi ke 2.</p>



<p>Gw harus melakukan semuanya sendiri. </p>



<p>Laptopnya pun gw ambil dari dia dan gw mulai bikin powerpointnya.</p>



<p>Ga lama setelah gw mulai, disaat gw mulai masuk ke zona kondusif.</p>



<p>Gw merasakan sesuatu di trackpad gw.</p>



<p>Sesuatu yang kecil.</p>



<p>Sesuatu yang lengket.</p>



<p>Teksturnya ga kayak debu.</p>



<p>Perasaan gw agak ga enak, gw lihat lebih dekat bendanya yang nempel di jari gw itu..</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>DAN ADA UPIL NEMPEL DI JARI GW.</p>



<p>Gw 110% yakin itu bukan upil gw karena hari itu gw blm ngupil.</p>



<p>Dan gw memiliki cukup akal sehat buat ga meperin upil gw di trackpad laptop.</p>



<p>Sambil gw nengok ke arah JBP dengan kejijikan yang maksimal (yang tentu saja masih tidur)</p>



<p>Gw hanya bisa menghela nafas dan menabahkan diri.</p>



<p>“Dia memang ada kekurangan, kita ga boleh marah, percuma marah, harus sabar, be the bigger man”</p>



<p>Kata2 tersebut gw ucapkan berulang kali di kepala gw.</p>



<p>Yah untungnya dengan berbagai cara, jaga malam itu bisa selesai dengan baik. dan saat laporan kasuspun hanya ada sedikit guncangan.</p>



<p>Itu adalah pengalaman hari pertama gw jaga dengan JBP.</p>



<p>Perlu diketahui, selama gw stase anak hampir setiap jaga malam partner gw adalah dia.</p>



<p>Dan beberapa hukum yang gw pelajari:</p>



<ol type="1"><li>Jam 11 adalah jam tidur beliau. ini tidak bisa diganggu gugat. sepertinya memang batere dia habis jam segini.</li><li>Dia sebetulnya mau membantu dan mengerjakan tugas, tetapi memang terkadang sulit untuk menyelesaikannya</li></ol>



<p>Sebagai koas yang baik gw pun beradaptasi.</p>



<p>Karena dia tidur jam 11, maka gw putuskan buat suruh dia jaga sendiri dulu dari awal jaga sampai jam 9 &#8211; 10 an.</p>



<p>Jadi paling gak dari jam 5 &#8211; 6 sampai jam 9 &#8211; 10 gw bisa siap2 dan tidur. karena gw tau setelah jam 11 gw bakal jaga sendirian.</p>



<p>Dan saat dia jaga, instruksi gw cuman 1.</p>



<p>Kalau ada pasien yang mungkin bisa jadi laporan kasus, catat data awalnya dan catat namanya.</p>



<p>Sekali jaga pun berubah jadi 2x, lalu 3.. 4… dan dengan bekal aturan2 tersebut, akhirnya dengan hanya sedikit terseok &#8211; seok, gw pun bisa melewati 10 minggu stase anak dan jaga bersama JBP.</p>



<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/15.0.3/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Yah terkadang memang pengalaman seperti ini yang jadi suatu memori  berharga yang lucu buat diingat lagi.</p>



<p>Dan dari sini gw juga belajar</p>



<p>“<em>It&#8217;s not about what cards you are dealt with. It&#8217;s about how you utilize them</em>”</p>



<p><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/15.0.3/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Yah sekian dulu deh post kali ini tentang partner jaga koas malam </p>



<p>Sepertinya terlalu semangat cerita yang ini. sampe berasa kayak nulis novel.</p>



<p>Semoga cerita pengalaman ini bisa membantu (entah gimana ngebantunya) bagi kalian yang mau koas, sedang menjalani koas, ataupun sedang mendapatkan teman kerja yang sulit.</p>



<p>Sampai bertemu di post berikutnya</p>



<p>And as always,</p>



<p>Kalian bisa temukan kami di instagram juga</p>



<p><a href="https://www.instagram.com/koas2doctor/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@koas2doctor</a></p>



<p><a href="https://www.instagram.com/sehati.sasi/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@sehati.sasi</a></p>



<p><a href="https://www.instagram.com/nicholasgabriel_hr/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@nicholasgabriel_hr </a></p>



<p><a href="https://www.instagram.com/gilbertsterling/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@gilbertsterling</a></p>



<p>See you</p>



<p>Baca Juga: <a href="https://koas2doctor.com/id/berapa-lama-untuk-lulus-fk-dan-jadi-dokter/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Berapa Lama Untuk Lulus FK dan Jadi Dokter?</a></p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/partner-jaga-malam-paling-berkesan-saat-koas/">Partner Jaga Malam Paling Berkesan Saat Koas</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/partner-jaga-malam-paling-berkesan-saat-koas/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>5 Hal yang Dipelajari &#038; Disyukuri Selama 2020</title>
		<link>https://koas2doctor.com/id/5-hal-yang-dipelajari-disyukuri-selama-2020/</link>
					<comments>https://koas2doctor.com/id/5-hal-yang-dipelajari-disyukuri-selama-2020/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Koas2doctor]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2020 04:53:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Diary Koas2Doctor]]></category>
		<category><![CDATA[COVID-19]]></category>
		<category><![CDATA[fk]]></category>
		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[koas]]></category>
		<guid ispermalink="false">https://koas2doctor.com/?p=444</guid>

					<description><![CDATA[<p>This year sucks, and there is no debate to it. 2020 merupakan tahun yang tidak dapat diprediksi oleh semua orang. Dari awalnya muncul outbreak virus COVID-19 di Wuhan, kemudian menjadi sebuah epidemi dan pada akhirnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/5-hal-yang-dipelajari-disyukuri-selama-2020/">5 Hal yang Dipelajari &#038; Disyukuri Selama 2020</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>This year sucks, and there is no debate to it.</em></p>



<p>2020 merupakan tahun yang tidak dapat diprediksi oleh semua orang. Dari awalnya muncul outbreak virus <a href="https://covid19.go.id/peta-sebaran" target="_blank" rel="noreferrer noopener">COVID-19</a> di Wuhan, kemudian menjadi sebuah epidemi dan pada akhirnya pandemi.</p>



<p>Banyaknya nyawa yang direbut, ditambah dengan politik yang diadu dengan kesehatan yang semakin menunjukkan sisi buruk dari manusia yang memiliki agendanya masing-masing ditambah dengan hilangnya pekerjaan dan sumber penghasilan membuat 2020 seperti tanpa harapan.</p>



<p>Namun, kita disini tidak akan membahas sisi negatif dari COVID-19. Sudah cukup banyak berita dan artikel yang membahas mengenai itu.</p>



<p>Instead, saya akan menceritakan poin-poin apa saja yang saya pelajari dan syukuri selama masa pandemi ini.</p>



<p>Berikut adalah 5 hal yang dipelajari dan disyukri oleh gue selama 2020:</p>



<h2 class="has-medium-font-size wp-block-heading">1. Merefleksikan kembali apa yang sudah saya capai selama tahun 2020</h2>



<p>Pada masa <em>stay at home</em> ini, kita tiba-tiba memiliki banyak sekali waktu luang. Waktu ini saya manfaatkan untuk merefleksikan kembali apa yang saya sudah capai dan apa yang belum saya capai. Setelah itu, saya memperdalam lagi dengan menanyakan kenapa beberapa hal belum dicapai dan apa saja target jangka pendek dan jangka panjang mengingat setelah lulus menjadi dokter?</p>



<p>Tentu saja waktu ini merupakan masa emas yang sangat bisa dimanfaatkan karena tanpa adanya pandemi ini, saya tidak akan pernah untuk berhenti dan merefleksikan kembali apa yang sudah saya capai atau belum. Perubahan apa saja yang harus saya ambil untuk mencapai target baru saya.</p>



<p>Fase koas tentu saja akan sangat berbeda dengan menjadi seorang dokter. Tanggung jawab baik dari segi gelar, profesi, dan mencari uang tentu saja akan sangat berbeda drastis. Sudah tidak ada lagi dokter spesialis yang menaungi kita, instead kita akan bertanggung jawab terhadap pasien kita. Sudah saatnya juga seorang dokter mulai mengurus keuangannya dan mulai belajar menabung, budgeting, dan investasi untuk mempersiapkan diri di masa depan. Which brings me to the second point</p>



<h2 class="has-medium-font-size wp-block-heading">2. Melek Finance dan Investing di tahun 2020 ini</h2>



<p>Tahun 2020 ini membuat kita sadar bahwa mayoritas dari kita masih belum memiliki planning keuangan yang baik. Dari hilangnya pekerjaan yang membuat tidak terbayarnya cicilan mobil, rumah ataupun KPR. Banyak yang masa depannya dalam 1 minggu tidak dapat diprediksi, ada yang harus menjual hartanya, atau bahkan ada yang tidak dapat melunasi tunggakan. Melihat semua ini, saya menjadi tergerak untuk mendalami finance dan berusaha untuk menyusun financial planning untuk diri saya sendiri.</p>



<p>Dimulai dengan membaca buku dari Ellen May, saya mulai sadar the power of investing. Namun, saya masih tidak tahu harus mulai dari mana sehingga saya membaca blog dan mendengar podcast Dissecting Money dimana saya belajar pentingnya budgeting sebelum melompat ke investasi. Setelah itu, saya mulai mendalami menganalisa laporan keuangan (partly karena memang bagian dari mata kuliah S2) juga dan yang terakhir adalah tutorial investasi dari youtube.</p>



<p>Hasilnya? Well of course ga sefantastis itu, karena ini adalah rencana jangka panjang dalam 10 tahun lagi. Namun, saya sudah dapat merasakan dampak positif budgeting dan investasi secara langsung. Gone are the mindsets di mana ketika saya mendapatkan uang dan langsung menghambur-hambukannya (read: beli buku) tanpa melakukan planning yang jelas.</p>



<p>Setidaknya sekarang saya membeli buku dengan planning terlebih dahulu (walau godaan diskon terkadang mengalahkan planning saya)</p>



<p>Tanpa pandemi ini sekali lagi, tanpa bermaksud untuk mengurangi rasa simpati dan empati kepada para korban atau dari keluarga korban COVID-19, tidak mungkin saya akan duduk manis dan pelan-pelan mempelajari dari awal untuk investing. Dengan waktu senggang sebanyak ini lah saya dapat belajar dan melek finansial.</p>



<h2 class="has-medium-font-size wp-block-heading">3. Banyaknya Webinar dan Ilmu Gratis selama 2020</h2>



<p>2020 menandakan physical distancing yang berarti seminar dan symposium kedokteran harus dilaksanakan secara online. Tidak ada lagi konferensi di hotel mewah atau pelatihan ACLS, EKG, ATLS, ataupun HIPERKES secara offline. Bahkan, sebelum pandemi di tahun 2020 ini, kita tidak pernah menyebut kata-kata “seminar offline”. Cukup seminar saja. Tentu saja, sampai pandemi ini menyerang.</p>



<p>Dibalik semua ketidaksiapan dan keterbatasan, webinar yang diadakan selama tahun 2020 ini memiliki banyak sekali manfaat apabila dipergunakan secara benar. Banyak webinar yang diupload secara gratis di youtube maupun webinar yang dapat diikuti live tanpa biaya. Tentu saja ini menjadi berita baik bagi kita semua yang ingin terus mengupdate ilmu namun duit pas-pasan (read: gaji bulanan belum turun).</p>



<p>Baca Juga: <a href="https://koas2doctor.com/id/uang-terbatas-ini-7-tips-memilih-webinar-dan-workshop-berbayar/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Uang Terbatas? Ini 7 Tips Memilih Webinar dan Workshop Berbayar!</a></p>



<h2 class="has-medium-font-size wp-block-heading">4. Mengcatch-up apa yang tertinggal </h2>



<p>Sibuknya saya dengan persiapan ujian membuat banyak projek yang terbengkalai selama koas seperti penulisan paper dan lain sebagainya. Setelah itu pun saya langsung mengikuti magang klinis bersama dokter anak sehingga memang banyak sekali hal-hal yang tidak dapat saya kerjakan.</p>



<p>Namun, masa pandemi ini memberikan banyak sekali waktu luang untuk saya mengerjakan semua hal-hal yang perlu diselesaikan dan juga mengerjakan projek-projek baru lainnya.</p>



<h2 class="has-medium-font-size wp-block-heading">5. Belajar skill baru</h2>



<p>Hal terakhir, dan mungkin yang hal terfavorit saya yang saya syukuri selama pandemi ini adalah mempelajari banyak skill baru, termasukk financial literacy. Tanpa pandemi ini, saya tidak mungkin terfikir untuk mempelajari hal-hal lain di luar dunia kedokteran seperti mempelajari apa itu Search Engine Optimization (SEO) dan akhirnya belajar bagaimana cara membuat blog yang akhirnya berujung kepada Koas2Doctor, mempelajari cara menggunakan Google Data Analytics, social media marketing, dan juga menemukan online courses mengenai kedokteran yang juga free.</p>



<p>Let me give you a clue tentang apa yang sedang saya pelajari &#8211; podcasting (wink wink)</p>



<p>Sekian untuk artikel kali ini tentang 5 hal yang dapat dipelajari dan disyukuri selama 2020. Walau kesannya seperti toxic positivity, gue ga ada intention untuk selalu ceria dalam setiap saat namun ini adalah sharing mengenai 5 hal yang menurut gue pataut dipelajari dan disyukuri selama 2020 </p>



<p>Bagi kalian yang ingin mensharing apa yang kalian syukuri atau kalian nikmati selama pandemi ini, silahkan dishare di kolom komentar dibawah ya!</p><p>The post <a href="https://koas2doctor.com/id/5-hal-yang-dipelajari-disyukuri-selama-2020/">5 Hal yang Dipelajari &#038; Disyukuri Selama 2020</a> appeared first on <a href="https://koas2doctor.com/id">Koas2Doctor</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentrss>https://koas2doctor.com/id/5-hal-yang-dipelajari-disyukuri-selama-2020/feed/</wfw:commentrss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 39/139 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching 7/41 queries in 0.312 seconds using Redis

Served from: koas2doctor.com @ 2026-10-07 08:56:58 by W3 Total Cache
-->