Site icon Koas2Doctor

Pengalaman IMO & RMO ala dr. Nicholas

Pengalaman RMO dan IMO

Pengalaman RMO dan IMO

Setelah membicarakan mengenai organisasi, kali ini saya akan menceritakan mengenai pengalaman saya dengan persiapan dan lomba/olimpiade kedokteran.

Lebih spesifiknya saya akan membahas pengalaman saya mengikuti olimpiade medis RMO dan IMO. RMO yaitu Regional Medical Olympiad dan IMO adalah International Medical Olympiad.

Yang harus diluruskan dulu sebelumnya adalah; walaupun disebut international tetapi pada kenyataannya peserta dari negara lain sayangnya hampir tidak ada di IMO.

Yang jelas, pengalaman dalam mengikuti perlombaan ini tentu akan sangat berbeda dari fakultas kedokteran satu, ke fakultas lainnya.

Karena itu, sekedar disclaimer, saat ini saya menceritakan pengalaman saya mengikuti perlombaan ini dari sudut pandang saya dulu sebagai mahasiswa FK UPH.

Pertama, kami di FK UPH dapat mengikuti olimpiade ini dengan cara mendaftar dan menjalani tes masuknya apabila bagian yang dipilih mempunyai pendaftar yang lebih banyak dari kuota tim yang terbuka.

Proses pendaftaran untuk olimpiade di UPH diatur oleh organisasi GTU

Baca Juga: Sharing Pengalaman Berorganisasi Ala dr. Gilbert Sterling Octavius.

Walaupun saya pribadi baru mengikuti IMO dan RMO kardiorespi pada tahun terakhir saya di pre-klinik tetapi sebenarnya saya pernah mencoba untuk mengikuti IMO Gastro pada tahun ke 2 saya di FK (dengan ajakan Gilbert). Tetapi sayangnya kami tidak berhasil melewati seleksinya

(Kemungkinan besar, tetapi tidak pasti, karena saya saat itu tidak terlalu belajar untuk seleksinya [I am sorry Gilbert, at least lu masih bisa ikut RMO tahun itu 🙂 ]).

Oke, jadi kembali ke topik pengalaman saya saat persiapan RMO dan IMO. Setelah kami melewati seleksi, maka setiap bagian yang terdiri dari tim beranggotakan 2 orang akan memulai persiapan.

Sebetulnya tidak ada ketentuan atau tuntutan apapun dari fakultas untuk proses persiapan ini. Jadi kami semua diberikan kebebasan untuk mempersiapkan diri.

Dari fakultas hanya akan membantu untuk memberikan wadah apabila kami perlu pengajar ataupun alat untuk belajar praktek.

Yang kurang lebih selalu sama dari semua tim dari berbagai bidang yang mengikuti olimpiade ini di FK UPH adalah: adanya pembimbing. Dimana pembimbimbing disini adalah dokter spesialis sesuai dengan topik yang dipilih.

Seperti misalnya; kardiorespi akan dibimbing oleh spesialis jantung dan pembuluh darah (sp. JP) dan spesialis paru – paru (sp. P), Gastroentrelogy akan dibimbing oleh spesialis penyakit dalam, spesialis bedah, dan mungkin spesialis anak (?) ( –> ini lebih baik dipastikan di sharing gilbert mengenai pengalaman dia), dan seterusnya.

Tetapi walaupun kita mendapat pembimbing, kita sendirilah yang harus mengejar – ngejar dan inisiatif untuk mencari ilmu dari pembimbing kita. Dimana kalau dari pengalaman saya, saya terkadang meminta bimbingan mengenai topik tertentu.

Walaupun pada kenyataanya pembimbing – pembimbing kami semua biasanya sibuk dan jika kami ingin belajar dari mereka mau tidak mau kami menjadi mengikuti mereka praktek dengan harapan mendapatkan curahan ilmu selagi mengikut mereka.

Saya sendiri memang belajar banyak sekali dari mengikuti dokter spesialis yang menjadi pembimbing tim kardiorespi. Terutama saat saya mengikuti konsulen sp. JP, mungkin ini karena memang tim kami paling sering mengikuti beliau.

Alasan lain saya belajar banyak jantung karena kebetulan konsulen sp. JP ini memang suka memberikan ilmu dan memberi “tekanan” yang membuat saya dan teman satu tim saya mau tidak mau terpaksa belajar banyak (karena rasa takut, rasa tertekan, dan TENTUNYA rasa keingintahuan yang tinggi).

Selain belajar bersama pembimbing, tentu kami juga memiliki sesi belajar sendiri yang sangat banyak.

Sebagian besar dari kami yang mengikuti olimpiade ini bahkan sampai membuat belajar olimpiade prioritas 1 dan belajar materi kuliah prioritas 2, “pergi” untuk belajar dari mata kuliah yang dirasa tidak terlalu penting, dll (not recommended).

Well bukannya sombong, tetapi untungnya kami yang terpilih untuk olimpiade ini tetap bisa lulus dengan nilai cukup baik walaupun menjadikan materi kuliah prioritas 2 😉

Total waktu yang kami dedikasikan untuk mempersiapkan olimpiade ini kurang lebih 6 bulan.

Dengan 3 bulan di dalamnya menggunakan waktu libur antar tahun kami.

Jadi selama kurang lebih 3 bulan ini kami benar – benar mendedikasikan waktu kami untuk belajar segala hal mengenai tema olimpiade yang kami ikuti. Baik secara teoritis maupun praktisnya.

Overall pengalaman ini benar – benar berguna sebagai sarana pengembangan diri dan juga sebagai cara untuk membangun relasi dengan dokter – dokter konsulen yang menjadi pembimbing kami.

Setelah membicarakan mengenai persiapan-nya, sekarang saya akan mengakhiri posting kali ini dengan membahas pengalaman lombanya tersebut.

Kita mulai dari RMO, RMO sendiri pada tahun ini diadakan di fakultas kedokteran UKRIDA di Jakarta.

Saat itu karena ini merupakan pengalaman pertama saya (dan sebagian besar peserta lainnya) mengikuti olimpiade seperti ini, tentunya kami semua gelisah dan gugup.

Tetapi untungnya karena memang kebetulan beberapa anggota dari tim RMO ini bisa diajak bercanda, kami bisa mengubah ke gelisahan tersebut menjadi suatu bercandaan.

Sehingga yang tadinya gugup kami malah jadi (untuk sebagian besar waktu) bisa lebih relaks dan tertawa.

Singkat cerita, olimpiade ini biasa terdiri dari beberapa bagian. Bagian pertama adalah bagian ujian tertulis berupa pilihan ganda dan ujian praktek OSPE yaitu praktek laboratorium.

Sejujurnya kami tim kardiorespitary (terutama saya) hampir saja gagal lolos babak pertama ini karena nilai OSPE yang kurang memuaskan. Untungnya nilai tersebut tertutup oleh nilai pilihan ganda yang baik.

Setelah kami melewati hari pertama tersebut, kami diberikan ruangan hotel oleh panitia untuk menginap dan menyiapkan babak berikutnya bila lolos babak pertama.

Keesokan harinya (setelah menghabiskan cukup banyak waktu semalam untuk belajar), kami melanjutkan olimpiade ini ke babak selanjutnya.

Pada hari kedua ini lomba yang diujikan berupa pilihan ganda dan OSCE atau ujian praktek.

Pilihan ganda di hari kedua ini bisa dibilang lebih sulit dibanding yang pertama, dimana soal – soalnya akan lebih membutuhkan pengertian yang mendalam dalam setiap bagiannya masing – masing.

Untungnya kami semua dari tim FK UPH berhasil lolos sampai ke final di RMO kali ini.

Babak final meliputi presentasi mengenai kasus kepada dokter spesialis, lalu diakhiri dengan cerdas cermat.

Singkat kata, setelah semuanya itu selesai pengumuman juara dilakukan pada sore harinya.

Sayangnya dari RMO dan IMO saya pribadi hanya berhasil meraih pencapaian saat RMO. Saat IMO sendiri, mungkin karena memang saya kurang persiapan dan kesalahan – kesalahan bodoh lainnya akhirnya saya hanya tembus sampai di semifinal.

kesalahan bodoh ini sampai sekarang masih selalu dibahas oleh salah satu konsulen yang menjadi pembimbing untuk IMO –> “never will he forget”.

 Untungnya dibahas disini bukan dalam arti ditegur atau dimarahi, tetapi lebih menjadi bahan bercandaan yang selalu mengingatkan akan kegagalan..

All in all, pengalaman selama mengikuti olimpiade ini memang suatu pengalaman yang cukup memorable dan cukup disarankan untuk diikuti apabila diberi kesempatan.

Perjuangan dan kerja keras yang dilakukan semuanya membuahkan hasil di berbagai bidang.

Di satu sisi kalian dapat kesempatan untuk mendapatkan suatu CV sebagai “pemenang olimpiade” tetapi di sisi lain hadiah yang paling berharga disini adalah pengalaman untuk belajar dan mendalami ilmu, serta membandingkan pembelajaran dan ilmu kalian dengan calon teman sejawat kalian dari seluruh Indonesia (dan mungkin internasional).

So.. pesan terakhir dari saya adalah: coba sajalah untuk ikut apabila diberi kesempatan untuk mengikuti perlombaan seperti ini dan don’t half ass it.

Semakin besar perjuangan yang kalian luangkan untuk ini maka akan membuahkan hasil yang semakin besar juga.

Written by: Nicholas Gabriel H.R.
Edited by: Gilbert Sterling Octavius

Exit mobile version