Dokter Juga Bisa Termakan Hoax

Dokter Juga Bisa Termakan Hoax

Nope, judul ini bukan sebuah click-bait yang berujung pada kami para tenaga medis melakukan shaming kepada kalian yang mudah termakan hoax atau lainnya. Apa yang kalian baca sebagai judul yaitu “Dokter Juga Bisa Termakan Hoax” adalah literally inti dari tulisan ini. Postingan ini sedikit memanusiakan yang sering didewakan, yaitu dokter dan termasuk juga dokter di dalam ini.

Baca Juga: Cara Belajar Untuk Nilai TOEFL 600 Dan Lebih!

Inspirasi dari artikel ini gua dapatkan dari sebuah grup WA yang menyebarkan sebuah postingan tentang kesehatan. Now, we all know we should take this kind of post with a pinch of salt and a pair of Bombastic side-eyes, tapi kalau berita ini dishare oleh dokter di dalam grup dokter, apakah berbeda ceritanya?

Supaya gua ga terkesan mengarang, berikut adalah tampilan screenshot yang tentu sudah gua crop nama grup dan partisipannya untuk melindungi anonimitas.

Gambar Hoax Whatsapp Kolesterol Lipitor
Gambar Screenshot Hoax Whatsapp Kolesterol & Lipitor

Berikut adalah teks penuh dari grup WA tersebut tanpa diedit, disadur, dikurangi, atau ditambahkan sepatah katapun:

INI ARTIKEL SAYA DAPAT DARI GRUP WA, SEKEDAR MENAMBAH WAWASAN KITA

Horee..berita bagus…..

Kabar baik:

 Semua pengguna Lipitor bersukacita!

Perusahaan-perusahaan farmasi mengekstraksi USD2 triliun dari konsumen atas nama perawatan tingkat kolesterol.

Sungguh memalukan bagi penipuan penelitian medis dan pihak berwenang.  Ketidakmampuan mereka menelan biaya 2 triliun dolar AS untuk orang-orang yang bugar dan sehat.

* Kolesterol * akhirnya secara resmi dihapus dari Daftar Nakal.  Pemerintah AS akhirnya menerima bahwa * kolesterol * bukan bahan makanan yang menjadi perhatian_.  * Berbelok * pada peringatan mereka kepada kami untuk menjauh dari makanan tinggi kolesterol sejak tahun 1970-an untuk menghindari penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah.

Ini berarti telur, mentega, produk susu penuh lemak, kacang-kacangan, minyak kelapa dan daging sekarang telah diklasifikasikan sebagai * aman * dan telah secara resmi dikeluarkan dari daftar nutrients of concern.

Departemen Pertanian AS, yang bertanggung jawab untuk memperbarui pedoman setiap lima tahun, menyatakan dalam temuannya untuk 2015: “Sebelumnya, Pedoman Diet untuk orang Amerika merekomendasikan agar asupan kolesterol dibatasi tidak lebih dari 300 mg / hari.

“DGAC 2015 tidak akan mengedepankan rekomendasi ini karena bukti yang ada menunjukkan tidak ada hubungan yang berarti antara konsumsi kolesterol makanan dan kolesterol serum (darah), konsisten dengan AHA / ACC (American Heart Association / American College of Cardiology)

Komite Penasihat Panduan Diet, sebagai tanggapan, tidak akan lagi memperingatkan orang-orang agar tidak mengonsumsi makanan berkolesterol tinggi dan sebagai gantinya akan fokus pada gula sebagai substansi utama yang menjadi perhatian diet.

Ahli jantung AS Dr Steven Nissen mengatakan: Ini keputusan yang tepat.  Kami salah dalam pedoman diet.  Mereka salah selama beberapa dekade. “

Ketika kita makan lebih banyak makanan yang kaya akan senyawa ini, tubuh kita menghasilkan lebih sedikit.  Jika kita menghilangkan makanan tinggi kolesterol – seperti telur, mentega, dan hati – tubuh kita akan pulih.

Kebenaran Sejati tentang Kolesterol.  Mayoritas kolesterol dalam diri Anda diproduksi oleh hati Anda.  Otak Anda terutama terbuat dari kolesterol.  Sangat penting bagi sel-sel saraf untuk berfungsi.

Kolesterol adalah dasar untuk penciptaan semua hormon steroid, termasuk estrogen, testosteron, dan kortikosteroid.

* Kolesterol tinggi dalam tubuh adalah indikasi yang jelas yang menunjukkan hati seseorang dalam keadaan sehat. *

George V. Mann M.D. associate director dari studi Framingham untuk kejadian dan prevalensi penyakit kardiovaskular (CVD) dan faktor-faktor risikonya menyatakan:

Lemak dan kolesterol tak jenuh dalam makanan bukanlah penyebab penyakit jantung koroner.  * Mitos itu adalah penipuan terbesar abad ini, mungkin abad mana pun * _

* Kolesterol adalah penipuan medis terbesar sepanjang masa *

Tidak ada yang namanya * Kolesterol jahat *

Jadi, Anda bisa berhenti mencoba mengubah tingkat Kolesterol Anda.  Penelitian membuktikan tanpa keraguan, kolesterol tidak menyebabkan penyakit jantung dan tidak akan menghentikan serangan jantung.

* Mayoritas orang yang mengalami serangan jantung memiliki kadar kolesterol normal. *

TUBUH KITA MEMBUTUHKAN 950 mg KOLESTEROL UNTUK METABOLISME HARIAN DAN HATI ADALAH produsen utama.  HANYA 15% DARI KOLESTEROL YANG DITONTON OLEH MAKANAN YANG KAMI MAKAN.

 Jika kandungan lemaknya kurang dalam makanan yang kita makan, hati kita

 Harus bekerja lebih banyak untuk mempertahankan level 950 mg.

* Jika kadar kolesterol tinggi dalam tubuh kita, itu menunjukkan hati bekerja dengan sempurna. *

 Para ahli mengatakan bahwa tidak ada yang seperti LDL atau HDL.

 ………… ..

 … .. * Kolesterol tidak ditemukan membuat blok di mana pun di tubuh manusia *.

 Silakan bagikan fakta terbaru tentang CHOLESTEROL

 https://www.washingtonpost.com/news/wonk/wp/2015/02/10/feds-poised-to-withdraw-longstanding-warnings-about-dietary-cholesterol/?utm_term=.1982832f86fa jutaan manusia & puluhan tahun tipu menipu?

And end.

Tarik nafas yang dalam. Hembuskan.

Apa perasaan Anda? Shock? Kaget? Setuju dengan artikel tersebut? Skeptis? Bingung? Atau malah ga percaya bahwa dokter tersebut percaya dengan artikel tersebut?

“Tapi dok, kan share belum tentu setuju, bisa aja share karena menarik dan bukan setuju”

Yes, agreed. Tapi ketika dokter tersebut menunjukkan artikel tersebut di depan gue, dan menyatakan bahwa dia sependapat dengan artikel ini, SECARA LANGSUNG DI DEPAN GUE, that’s when I know something is up.

Now, shall we begin?

Jadi Ini Berita Hoax Atau Bukan?

Disini peran kami bukan untuk menentukan kolesterol itu baik atau jahat.

Bukan pula peran kami untuk mengatakan bahwa ini adalah conspiracy theory supaya orang-orang tetap mengkonsumsi Lipitor dan “Big Pharma” akan profitable.

Bukan juga peran kami disini untuk mengedukasi kalian how cholesterol works.

Tapi disini, kami mengajak untuk bersama-sama melakukan fact checking.

Yep, as simple as that.

Hoax sekarang cukup pintar. Selain menggunakan kata-kata persuasive, mereka biasanya akan mencantumkan nama-nama dokter seperti “Professor X di Cina yang merupakan ahli selama 20 tahun dalam bidang XYZ” atau “Dokter AAA dari Amerika mengatakan PQR”. Sumbernya? Well, Only the Lord knows.

Tapi disini mereka menjadi lebih pintar dengan mencantumkan sebuah website/link/artikel yang menurut mereka mendukung alibi mereka. Dalam kasus ini, website yang berisikan artikel dari Washington Post itu lah yang menyokong bahwa cholesterol itu hoax.

This is a little bit too far tapi kalau kalian notice, link website itu langsung “ditabrak” dengan kata-kata yang sangat awkward penempatannya (tanpa tombol enter untuk paragraph baru). Dan ini bukan karena kesalahan kami dalam proses pengeditan, namun tampilan di WA pun seperti itu.

As if they do not want you to directly click into the website.

Tapi kalau kalian orang yang niat, pengangguran, jomblo, dan ga ada kerjaan kayak gue, lu akan mencari tahu dan membaca artikel tersebut. Nah, gua ambil satu paragraph dari artikel original Washington Post tersebut:

“The new view on cholesterol in food does not reverse warnings about high levels of “bad” cholesterol in the blood, which have been linked to heart disease. Moreover, some experts warned that people with particular health problems, such as diabetes, should continue to avoid cholesterol-rich diets”

Kalian menyadari akar permasalahannya disini?

Kalau kalian membaca lagi kalimat di atas, pesan di WA tersebut mengatakan bahwa “Para ahli mengatakan bahwa tidak ada yang seperti LDL atau HDL” yang berbanding terbalik dengan artikel dari Washington Post yang mengatakan bahwa masih ada “kolesterol jahat” di dalam tubuh kita.

Sekali lagi, ini bukan post medis yang bertujuan untuk mengatakan bahwa kolesterol baik atau bukan. Tentu kita tahu konsumsi kolesterol dalam jumlah, kualitas, dan jenis tertentu tetap sangat dibutuhkan oleh tubuh kita.

Tapi, dengan membaca satu paragraph itu saja sudah meruntuhkan kepercayaan kita kepada pesan berantai WA itu bukan?

Terutama bila artikel dari Washington Post itu diposting pada tahun 2015, atau 8 tahun yang lalu. Atau ketika kami berdua masih di semester dua dan tiga.

Dude, time flies. We got old.

Tentu rekomendasi akan terus berkembang, terutama di tahun 2023 ini. Dan selama kami masih bisa mengingat, kolesterol masih merupakan salah satu faktor resiko untuk beberapa penyakit seperti kardiovaskular dan stroke. Namun pesan berantai tersebut mengatakan bahwa kolesterol tinggi adalah pertanda “hati bekerja dengan sempurna”

Now, apabila kalian membaca penuh artikel tersebut, artikel tersebut berusaha meningkatkan level skeptisisme kita terhadap diet rendah kolesterol dengan sebuah cerita anecdotal yang compelling. Mereka menceritakan bahwa rekomendasi diet rendah kolesterol (atau tinggi kolesterol) tidak memiliki basis bukti yang kuat atau belum ada rekomendasi yang sahih dan jelas mengenai diet dan batasan kolesterol. Instead, sebuah rekomendasi yang arbitrer diteruskan dari jaman dahulu dan hanya diteruskan sampai sekarang sebagai sebuah kebiasaan yang sudah kita terima.

Dan gua akan sangat menganjurkan kalian untuk membaca artikel tersebut lebih lanjut sebelum membaca sampai disini karena kalau kalian percaya apa kata gua 100%, sama saja mungkin kalian percaya dengan hoax-hoax berikutnya.

Tapi, dengan asumsi bahwa interpretasi bacaan gua benar, maka sebenarnya artikel Washington Post tersebut berusaha untuk mengajak pembacanya berfikir kritis dan mungkin kita perlu duduk bersama dan memikirkan kembali mengenai rekomendasi diet rendah kolesterol yang membuat konsumsi telur menurun dikarenakan rekomendasi “kuning telur” itu haram bagi orang yang memiliki kolesterol tinggi.

But it certainly does not say “high cholesterol is normal”.

Mengapa Dokter pun Juga Bisa Termakan Hoax?

Ini sebuah hipotesa, dengan beberapa sitasi dengan artikel penelitian dan bukti anedoktal.

Feeling gue, ini merupakan sebuah hoax yang beredar di internet dan WA, ntah siapa yang meneruskan ini, tapi kemudian ada beberapa grup dokter yang membaca ini dan tidak mengkonfirmasi sumbernya dan berfikir:

“Tuh kan, apa kata gue, kolesterol ga bahaya kok”

Confirmation bias at its finest.

Mungkin suatu saat gua akan membahas tentang bias-bias yang ada, tapi confirmation bias is like this: lu dokter umum praktek, ketemu pasien STEMI dengan onset 1 jam (ST elevasi sangat jelas di EKG) tapi troponin I normal. Terus lu ketemu WA blast yang mengatakan EKG itu hoax, justru ST elevasi itu tanda jantung kita sempurna.

Gotcha, lu kemakan berita tersebut, line and sinker.

Dan diteruskan lah berita itu ke dokter-dokter lainnya. Nah, karena yang menyebarkan ini awalnya adalah seorang dokter, terdapat sebuah “credibility bias” dimana kalian berfikir “Wah dokter kan pasti tahu apa yang dia ceritakan, ga mungkin lah dia salah” sehingga lu mempercayai kredibilitas dari WA chat ini.

Padahal ya belum tentu.

So it’s not the case of dokter, termasuk dokter juga bisa termakan hoax, more so karena dokter-dokter juga tidak mengkonfirmasi sumber atau tidak membaca lebih lanjut mengenai sumber yang dicantumkan.

Sebuah artikel mengatakan bahwa semua orang, termasuk dokter, dapat termakan hoax. Pertanyaannya adalah apakah ini generalized trait (sebuah sifat umum)  atau context dependent (spesifik kepada konteks tertentu. Tentu kita tidak perlu melihat lebih jauh dari COVID-19 ketika seluruh dunia tiba-tiba terbagi menjadi dua, termasuk para akademisi dan dokter mengenai COVID-19. Tidak jarang banyak pula tenaga medis yang termakan hoax mengenai COVID-19.

Kesimpulan

Semua orang bisa termakan hoax, termasuk dokter umum dan dokter. Namun, kita sebagai tenaga medis, harus berhati-hati dalam merekomendasikan sesuatu sebelum kita sendiri yakin dapat mengkonfirmasi berita tersebut. Otherwise, orang-orang yang mempercayai kompetensi kita akan meragukan pendapat kita, and science and health will be ultimately doomed to fail (more on that on next posts).

Sekian dulu untuk post kali ini mengenai “Dokter Juga Bisa Termakan Hoax”. Bila kalian suka dengan konten ini kalian dapat mengecek Podcast kami di Koas2Doctor dan memfollow instagram kami di @koas2doctor. Leave a comment, share this to your friend and we will see you guys soon!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia